Wisata

Pascapembalakan Liar, Kini Kawasan Leuweung Sancang Mulai Rindang

×

Pascapembalakan Liar, Kini Kawasan Leuweung Sancang Mulai Rindang

Sebarkan artikel ini
Akses masuk menuju Leuweung Sancang. (Foto: Ai Respati)

GOSIPGARUT.ID — Kawasan Cagar Alam Leuweung Sancang di Desa Sancang, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, kini mulai rindang pasca pembalakan liar secara besar-besaran sekira dua puluh tahun silam.

Pohon-pohon mulai tumbuh dan besar sehingga kawasan Leuweung Sancang bisa kembali rimbun setelah sebelumnya habis karena pohon -pohon besar berusia ratusan tahun dibabat habis.

Kawasan Cagar Alam Leuweung Sancang seluas 2.157 Ha sejak tahun 1978 ditetapkan sebagai cagar alam untuk melestarikan flora dan fauna seperti kayu kaboa, merak, banteng, harimau, dan lainnya.

Sayangnya pada tahun 2000, kawasan Cagar Alam Leuweung Sancang habis tidak bersisa akibat seluruh pohonnya ditebang dan diangkut, entah kemana.

Saat itu, yang sangat merasakan dampak pembalakan liar tersebut adalah masyarakat sekitar kawasan Leuweung Sancang. Udara ekstrim jika siang sangat panas dan jika malam hari sangat dingin. Angin laut pun langsung menembus pemukiman warga sehingga atap rumah selalu hancur beterbangan tertiup angin.

Baca Juga:   Abaikan Prokes, Objek Wisata Batukaras Pangandaran Ditutup Mulai Minggu

Diperparah dengan sulitnya mendapatkan air bersih karena sumur kering akibat tidak ada resapan air.

Kini, karena kawasan Cagar Alam Leuweung Sancang mulai rindang menjadikan udara di kawasan Leuweung Sancang mulai sejuk. Flora dan fauna kembali hidup dan tidak terganggu lalu lalang ojek yang mengantar pengunjung ke lokasi yang dianggap keramat itu.

Kawasan Cagar Alam Leuweung Sancang tidak lepas dari mitos yang beredar secara turun temurun tentang kisah Prabu Siliwangi dan Prabu Kean Santang yang menjelma menjadi harimau Sancang dan bersembunyi di dalam gua di Leuweung Sancang. Ada juga mitos yang beredar harimau Sancang menjelma menjadi kayu kaboa.

Baca Juga:   Masa New Normal, Tempat Karoke di Garut Belum Diizinkan Beroperasi

Mitos itulah yang membuat kawasan Cagar Alam Leuweung Sancang selain menjadi cagar alam untuk melestarikan flora dan fauna, juga diramaikan dengan wisata yang dianggap sebagian orang keramat.

Jika kita memasuki kawasan hutan Sancang, jauh sebelum memasuki pintu masuk akan dijemput oleh puluhan tukang ojek yang menawarkan jasa mengantar ke lokasi yang dikeramatkan. Tarifnya bervariatif tergantung kesepakatan antara penumpang dan tukang ojek.

Selain itu, di pintu masuk kita harus membayar tiket masuk sebesar Rp5 ribu per orang. Di sepanjang jalan menuju pintu masuk Leuweung Sancang banyak dijumpai plang bertuliskan juru kunci pengantar ziarah Sancang. Jasa juru kunci disesuaikan berdasarkan kesepakatan antara pengunjung dan sang juru kunci.

Menurut petugas pintu masuk Leuweung Sancang, Fitriyadi yang mengaku sebagai ketua RT Kampung Sancang, Senin (24/8/2020) kehadiran juru kunci Leuweung Sancang untuk mengantar pengunjung ke lokasi tujuan ziarah.

Baca Juga:   Antisipasi Bencana Longsor, Alat Berat Disiagakan di Garut Selatan

“Sekarang banyak sekali juru kuncinya dan biasa mengantar pengunjung ke lokasi,yang menjadi juru kunci adalah warga Kampung Sancang. Kalau ongkos ojek yang mengantar ke lokasi ongkosnya bervariatif dari Rp25 ribu tergantung kesepakatan pengunjung dan tukang ojek,” kata dia.

Pengunjung ke Cagar Alam Leuweung Sancang tidak hanya berasal dari Kabupaten Garut, namun banyak pula yang dari luar Garut, bahkan dari luar Pulau Jawa. Dikatakan Fitriyadi, setiap hari selalu ada pengunjung yang datang. Minimal sepuluh orang. Di akhir pekan, tamu yang datang bisa dua kali lipat. (Respati)

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *