GOSIPGARUT.ID — Keong sawah atau tutut, kudapan jelata yang identik dengan meja makan warga Sunda, mendadak naik kelas. Dalam helatan BUMDes Festival Jabar 2026 di objek wisata Waduk Darma, Kabupaten Kuningan, Minggu, 30 Agustus 2026, siput air tawar ini didapuk menjadi menu utama kampanye penanganan stunting di Jawa Barat.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, menegaskan bahwa potensi nutrisi tutut tak boleh dipandang sebelah mata. Di tengah tingginya tantangan pemenuhan gizi anak, tutut dinilai hadir sebagai solusi pangan lokal yang melimpah sekaligus kaya protein hewani.
”Jangan main-main dengan tutut kalau kita ingin menghasilkan generasi handal, unggul, dan berkualitas. Salah satunya harus cukup asupan protein hewani dan itu ada di tutut, termasuk kalsium dan zat besi,” kata Herman di hadapan peserta festival.
Daya tarik festival kian menyengat lewat Festival Ngecrok Tutut Sajedingna—tradisi menyedot daging tutut langsung dari cangkangnya. Herman, bersama Bupati Kuningan, pejabat Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta ratusan warga tampak melepaskan sekat formalitas, duduk berderet menikmati kudapan gurih berkuah kuning tersebut.
Pilihan mengusung tutut bukan tanpa alasan logis. Pasokan komoditas ini melimpah saban hari. Di kawasan Waduk Darma saja, nelayan dan pencari tutut mampu mengumpulkan hingga 4 kuintal tutut per hari.
”Luangkan waktu untuk mengonsumsi tutut karena punya kandungan gizi luar biasa dan membuat panjang umur. Di Jawa Barat tutut mudah ditemui,” ujar Herman.
Sentilan untuk Pengelola Waduk Darma
Rangkaian BUMDes Festival Jabar 2026—yang diisi kegiatan jalan santai Jabar Slow Emotion, diskusi kelompok, hingga bazar produk desa—tak sekadar diwarnai urusan kuliner. Herman memanfaatkan panggung tersebut untuk menyentil tata kelola ekonomi desa dan aset pariwisata daerah.
Ia memperingatkan agar pengurus BUMDes tak berpuas diri dengan selebrasi tahunan semata. Penguatan manajemen usaha, efisiensi rantai produksi, hingga perluasan pemasaran profesional berbasis sinergi dengan BUMD harus segera dieksekusi.
Sorotan paling tajam diarahkan pada pengelolaan Waduk Darma. Herman menilai potensi destinasi wisata di selatan Kuningan itu masih digarap secara ala kadarnya dan belum menyumbang dampak ekonomi signifikan.
”Bagaimana Waduk Darma bisa menjadi wisata andalan tanpa dikelola dengan baik? Kami memandang hari ini masih biasa saja,” ujar Herman melempar kritik terbuka.
Ia menuntut adanya perombakan strategi pengelolaan agar daya tarik Waduk Darma berbuah manis bagi pendapatan PT Jaswita Jabar, Kas Daerah Pemkab Kuningan, BUMDes, hingga kesejahteraan warga di sembilan desa yang mengepung kawasan waduk tersebut. (Yan AS)



.png)










