GOSIPGARUT.ID — Komunitas diaspora Kabupaten Garut yang tergabung dalam Asgar Jaya kembali menggebrak lewat penyelenggaraan Turnamen Golf Asgar Jaya II di Jatinangor National Golf & Resort, Sabtu, 29 Agustus 2026. Mengusung tema besar “Mendorong Pengembangan Ekosistem Ekonomi Kreatif Garut 2026″, ajang ini menjelma menjadi ruang diplomasi dan konsolidasi strategis lintas sektor untuk melontarkan potensi ekonomi daerah ke tingkat nasional.
Tak kurang dari 156 pegolf dari pelbagai latar belakang memadati lapangan hijau. Penyelenggara berhasil menyatukan jejaring pemangku kepentingan kunci: pejabat pemerintah pusat dan daerah, perwakilan BUMN, pimpinan korporasi swasta nasional, hingga pengusaha perantau asal Garut. Berbeda tajam dari lazimnya turnamen golf, acara dibuka secara khidmat melalui apel upacara pengibaran bendera Merah Putih dan alunan lagu Indonesia Raya—sebuah gestur kebangsaan dalam menyemarakkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Ketua Panitia Pelaksana, H. Ato Hermanto, menegaskan bahwa orientasi utama perhelatan ini murni menyasar pembukaan jalur pasar bagi produk-produk unggulan daerah. Turnamen ini dirancang sebagai katalog hidup atas potensi Garut yang kerap luput dari perhatian investor.
”Garut tidak hanya dikenal lewat keindahan alam dan pariwisatanya, tetapi juga kekayaan UMKM, kuliner, kerajinan, hingga seni budaya,” ujar Ato di sela-sela acara.
Komitmen tersebut dibuktikan lewat ekshibisi khusus di area turnamen yang menghadirkan 16 pelaku UMKM terpilih asal Garut. Mereka memamerkan aneka produk kriya kreatif hingga olahan makanan khas. Tak hanya urusan bisnis, panitia menyuguhkan demonstrasi atraktif pesilat muda daerah sebagai penanda kuat pelestarian akar budaya Sunda.
Inovasi Asgar Jaya mengawinkan olahraga elit dengan penguatan UMKM mendulang apresiasi dari pemerintah pusat. Staf Khusus Presiden RI Bidang UMKM dan Teknologi Digital, Tiar Nabilla Karbala, menilai produk komoditas karya anak muda Garut—seperti kerajinan kriya, batik lokal, hingga jaket kulit—memiliki standar mutu tinggi. Namun, daya saing tersebut membutuhkan dukungan ekosistem yang terintegrasi dari pusat hingga daerah.
Dari sisi kualitas dan daya saing pasar, Ketua Dewan Pembina Asgar Jaya, Burhanuddin Abdullah, memberikan catatan kritis. Mantan Gubernur Bank Indonesia itu menekankan pentingnya kurasi dan peningkatan mutu secara konsisten agar produk Garut mampu menembus rantai pasok nasional maupun global.
Sinyal positif juga dilontarkan Pemerintah Kabupaten Garut. Bupati Abdusy Syakur Amin menyambut hangat inisiatif konkrit para perantau. Menurut Syakur, akselerasi pembangunan daerah di tengah keterbatasan anggaran sangat bergantung pada efektivitas penguatan jejaring diaspora.
Menutup rangkaian acara, Ketua Umum Asgar Jaya, Ir. Asep Sulaeman, MBA, menegaskan agenda pengembangan ekonomi kreatif Garut tidak bisa berjalan secara parsial. Ia mendorong skema kolaborasi lima pilar (pentahelix)—menyatukan pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, dan komunitas perantau secara berkelanjutan.
Menegaskan komitmen bahwa kepedulian perantau harus berdampak langsung ke akar rumput, panitia menyalurkan donasi sosial kepada Yayasan Dhuafa – Pesantren Abdurahman. Langkah ini menahbiskan bahwa di balik diplomasi golf kelas atas, ada misi sosial yang tetap berpihak pada masyarakat di kampung halaman. (Yan AS)



.png)












