Berita

Uji Coba Presensi Digital Siswa di Garut, Efisiensi Data Terganjal Keterbatasan Perangkat

×

Uji Coba Presensi Digital Siswa di Garut, Efisiensi Data Terganjal Keterbatasan Perangkat

Sebarkan artikel ini
Uji coba presensi digital siswa di SMPN 1 Bayongbong, Kabupaten Garut.

GOSIPGARUT.ID — Pemerintah Kabupaten Garut meluncurkan uji coba sistem presensi digital berbasis pemindaian wajah (face recognition) dan barcode bagi siswa sekolah dasar serta menengah pertama. Langkah ini dirancang untuk membangun basis data kehadiran pelajar yang terintegrasi, transparan, dan dapat dipantau langsung oleh orang tua secara real-time.

​SMP Negeri 1 Bayongbong menjadi salah satu pilot project program ini bersama SD Gentra Masekdas Tarogong. Selama dua pekan masa uji coba, sistem anyar ini terbukti memangkas birokrasi rekapitulasi kehadiran manual yang selama ini menyita waktu guru dan petugas piket.

​Kepala SMPN 1 Bayongbong, Herdi Mulyana, mengungkapkan keunggulan utama sistem digital ini terletak pada kecepatan pengolahan data. Sekolah kini sanggup mengantongi persentase dan alasan ketidakhadiran siswa hanya dalam hitungan menit setelah bel masuk berbunyi.

Baca Juga:   Kali Kedua Digelar, KADIN Indonesia Trading House Kembali Hadirkan “Exporter Meet Up” untuk Dorong Ekspansi Pasar Global Pelaku Usaha di Jawa Tengah

​“Kalau dulu kita harus merekap absensi secara manual dan membutuhkan proses yang cukup lama. Dengan presensi digital, dalam beberapa menit kita sudah bisa mengetahui persentase siswa yang tidak hadir beserta alasannya,” ujar Herdi saat dihubungi.

​Pada hari pertama penerapan, sistem langsung mendeteksi sekitar 25 siswa yang tidak hadir dengan rincian keterangan yang jelas, seperti sakit maupun izin. Seluruh guru dan wali kelas telah dibekali akun khusus untuk memantau dinamika kelas secara langsung dari genggaman ponsel masing-masing.

​Keunggulan lain terletak pada keterlibatan wali murid. Melalui aplikasi bentukan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Garut, orang tua dapat memantau kedatangan anak di sekolah secara presisi, sekaligus meminimalkan potensi siswa bolos.

Baca Juga:   Tujuh Kendaraan Operasional MUI Desa di Talegong Diserahterimakan

​Namun, meski menunjukkan tren positif, implementasi teknologi ini di lapangan tak lepas dari kendala teknis. SMPN 1 Bayongbong yang menampung sekitar 1.260 siswa harus menghadapi potensi penumpukan antrean absensi di gerbang sekolah.

​Sistem pencatatan memang hanya membutuhkan waktu kurang dari 30 detik per siswa. Namun, sempitnya tenggat waktu menjadi tantangan tersendiri. Siswa mulai berdatangan sejak pukul 06.00 WIB, sementara batas masuk ditetapkan pukul 06.30 WIB.

Artinya, sekolah hanya memiliki jendela waktu 30 menit untuk melayani ribuan siswa sebelum kegiatan belajar-mengajar dimulai.

​Untuk menyiasati minimnya perangkat khusus presensi digital yang masih dikembangkan Pemkab Garut, pihak sekolah terpaksa mengerahkan enam unit perangkat darurat berupa kombinasi laptop dan telepon seluler.

Baca Juga:   Harga Gas Melon di Garut Tembus Rp37.000, GIPS Soroti Pengawasan Distribusi Lemah

​“Kalau alatnya hanya satu atau dua, tentu akan memakan waktu. Meskipun proses absensi masing-masing siswa tidak lebih dari 30 detik,” tegas Herdi menyoroti pentingnya penambahan infrastruktur penunjang.

​Pemerintah Kabupaten Garut menargetkan sistem presensi digital ini dapat disempurnakan sebelum didistribusikan secara masif ke seluruh jenjang SD dan SMP. Pembenahan infrastruktur perangkat keras dan penyesuaian manajemen waktu menjadi kunci utama agar digitalisasi pendidikan ini tak sekadar modern di atas kertas, tetapi juga efektif di lapangan. (Yuyus)

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *