GOSIPGARUT.ID — Sebanyak 50 pelajar SMA dan SMK dari berbagai wilayah di Indonesia mendapat kesempatan langka mengintip langsung ruang kendali pengawasan telekomunikasi nasional di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Jakarta, Kamis (6/8/2026).
Para siswa yang tergabung dalam Forum Pelajar Indonesia (FPI) tersebut datang dari pelbagai pelosok negeri, mulai dari Sumatera Selatan hingga Nusa Tenggara Timur (NTT).
Melalui program “Eksplorasi Komdigi”, para pelajar diajak melihat bagaimana pemerintah menjaga kualitas sinyal telekomunikasi sekaligus memantau keamanan ruang digital Indonesia secara real-time.
Rangkaian edukasi dimulai dari pengenalan fasilitas pengelolaan informasi publik seperti press room, tempat di mana jurnalis dan pemerintah berinteraksi menyebarkan informasi resmi negara.
Tak berhenti di situ, para peserta juga diajak menyambangi Balai Monitoring Spektrum Frekuensi Radio. Di lokasi ini, mereka melihat langsung unit Mobil Monitoring—kendaraan canggih yang bertugas mendeteksi dan mencegah gangguan frekuensi radio di lapangan.
Puncak antusiasme peserta pecah saat memasuki Pusat Monitoring Telekomunikasi (PMT). Di pusat kendali (control room) ini, layar-layar besar menampilkan grafik pemantauan kualitas sinyal seluler dari Sabang sampai Merauke, lengkap dengan mekanisme penanganan gangguan jaringan secara langsung.
Pengalaman berharga ini dirasakan betul oleh Philips Soubirus, siswa asal SMAK Giovanni Kupang, NTT. Ia mengaku terpukau karena tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga melihat langsung teknologi canggih yang bekerja di belakang layar.
“Menurut aku informatif banget. Tadi dijelasin cara sistemnya bekerja dan monitor drive. Kami diedukasi, disosialisasi, lalu ada aksinya langsung turun ke lapangan,” kata Philips saat ditemui di lokasi.
“Apalagi saya datang jauh dari NTT, tidak rugi banget datang ke sini,” lanjutnya penuh semangat.
Langkah Komdigi membuka pintu bagi generasi muda ini bukan tanpa alasan. Sebagai kelompok pengakses internet paling aktif, pelajar dinilai punya peran strategis untuk menciptakan ekosistem digital yang sehat, aman, dan inklusif.
Melalui program ini, pemerintah berharap para pelajar tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga agen literasi digital yang paham pentingnya menjaga kualitas jaringan, regulasi, serta keamanan bermedia sosial di daerah masing-masing. (Yan AS)



.png)





















