GOSIPGARUT.ID — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Garut membantah anggapan bahwa pembangunan Rumah Sakit (RS) Limbangan mangkrak. Pemerintah daerah menegaskan proyek tersebut belum selesai dan akan dilanjutkan secara bertahap sesuai ketersediaan anggaran, dengan target penyelesaian kembali dilanjutkan pada 2027.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, dr. Leli Yuliani, mengatakan pembangunan RS Limbangan telah dimulai sejak 2020 dan dikerjakan dalam enam tahap. Menurut dia, terhentinya sejumlah pekerjaan bukan berarti proyek ditinggalkan, melainkan dipengaruhi keterbatasan anggaran yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
“Sebetulnya untuk Rumah Sakit Limbangan itu bukan mangkrak, tetapi memang belum selesai. Proses pembangunannya masih terus berjalan sejak tahun 2020 dan dilakukan secara bertahap,” ujar Leli kepada wartawan belum lama ini.
Ia menjelaskan, pada perubahan APBD tahun ini pemerintah masih mengalokasikan anggaran untuk pekerjaan pemeliharaan bangunan. Selanjutnya, pada 2027 Dinkes Garut akan kembali mengusulkan anggaran guna melanjutkan penyelesaian rumah sakit tersebut.
Menurut Leli, saat perencanaan awal kebutuhan biaya pembangunan RS Limbangan diperkirakan mencapai sekitar Rp80 miliar. Hingga saat ini, anggaran yang telah terserap disebut telah melebihi Rp40 miliar, sehingga masih dibutuhkan dana tambahan agar rumah sakit dapat beroperasi secara penuh.
“Perencanaan awal sekitar Rp80 miliar. Namun sekarang tentu ada penyesuaian karena harga material dan kebutuhan pembangunan juga berubah, sehingga kemungkinan anggarannya bisa lebih besar,” katanya.
Dinkes Garut, lanjut Leli, terus mengupayakan dukungan pembiayaan dari berbagai sumber. Selain mengandalkan APBD Kabupaten Garut, usulan pendanaan juga diajukan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat hingga pemerintah pusat.
“Kami sudah mengajukan penganggaran ke pemerintah daerah, provinsi, maupun pusat. Kalau dukungan anggaran bisa segera tersedia, tentu penyelesaiannya juga akan lebih cepat,” ucapnya.
Menanggapi kritik yang menyebut proyek tersebut minim kajian dan perencanaan, Leli menilai kondisi yang terjadi lebih disebabkan perubahan situasi yang tidak diperkirakan saat proyek dimulai.
Ia mengungkapkan, pembangunan RS Limbangan bertepatan dengan pandemi Covid-19 pada 2020–2021. Saat itu, sebagian anggaran pemerintah harus dialihkan untuk penanganan pandemi melalui kebijakan refocusing anggaran. Setelah pandemi mereda, proyek kembali menghadapi kebijakan efisiensi anggaran yang turut memengaruhi kelanjutan pembangunan.
“Awalnya semua diperkirakan berjalan normal. Namun kemudian terjadi pandemi Covid-19 sehingga ada perpindahan alokasi anggaran. Setelah itu juga ada kebijakan efisiensi. Hal-hal tersebut berada di luar perkiraan kami sejak awal,” jelasnya.
Meski proses penyelesaiannya memerlukan waktu, Leli menegaskan pembangunan RS Limbangan tetap menjadi salah satu prioritas pemerintah daerah. Keberadaan rumah sakit tersebut dinilai penting untuk meningkatkan akses layanan kesehatan masyarakat, mengingat kebutuhan tempat tidur rumah sakit di Kabupaten Garut hingga kini masih belum terpenuhi.
“Garut masih sangat kekurangan tempat tidur rumah sakit. Karena itu pemerintah tetap berkomitmen menghadirkan fasilitas kesehatan baru untuk memenuhi kebutuhan pelayanan masyarakat,” kata Leli. ***















