GOSIPGARUT.ID — Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kabupaten Garut mencatat eskalasi tajam kasus kebakaran sepanjang tahun 2026. Hingga 25 Oktober 2026, total insiden menembus 641 kejadian, meroket hampir 185 persen dibandingkan keseluruhan tahun 2025 yang hanya mencatat 225 kejadian.
Lonjakan drastis ini digerakkan oleh ledakan kasus kebakaran lahan yang melonjak lebih dari 18 kali lipat, menjadi ancaman serius di tengah kerentanan lingkungan wilayah setempat.
Berdasarkan data Disdamkarmat Garut, dari total 641 kejadian pada 2026, sebanyak 403 merupakan kebakaran lahan, sementara 238 sisanya adalah kebakaran nonlahan. Angka kebakaran lahan ini melompat jauh dari catatan tahun 2025 yang hanya 21 kejadian, atau mencatatkan lonjakan persentase sebesar 1.819 persen.
”Peningkatan kasus kebakaran lahan yang mencapai belasan kali lipat ini menjadi perhatian serius bagi kami dalam upaya pencegahan dan penanganan,” ujar perwakilan Disdamkarmat Kabupaten Garut.
Ia menegaskan, pihaknya terus meningkatkan kesiapsiagaan operasional sekaligus memperkuat edukasi mitigasi kepada masyarakat luas.
Data menunjukkan eskalasi kebakaran lahan mulai memuncak pada pertengahan hingga akhir tahun. Porsi terbesar terjadi pada Agustus dengan 122 kejadian, disusul September sebanyak 107 kejadian, dan Juli dengan 81 kejadian.
Dampak kerusakannya pun masif. Total area yang terbakar sepanjang 2026 telah mencapai sekitar 173,7 hektare. Luas area terdampak paling parah tercatat pada September seluas 50,68 hektare dan Oktober sebesar 50,65 hektare, menyusul gelombang kebakaran yang intensif pada periode Juli hingga Oktober.
Sementara itu, tren kenaikan juga terjadi pada sektor nonlahan. Sepanjang 2026 hingga 25 Oktober, tercatat 238 kejadian kebakaran nonlahan. Jumlah ini telah melampaui total keseluruhan tahun 2025 yang membukukan 204 kejadian, atau naik sekitar 17 persen.
Kasus kebakaran nonlahan tertinggi pada tahun ini terjadi pada Juli sebanyak 35 kejadian, diikuti Agustus dengan 29 kejadian, dan Februari sebanyak 27 kejadian.
Dengan masih tersisanya waktu hingga penghujung tahun, potensi penambahan titik api, baik pada lahan maupun nonlahan, dinilai masih terbuka. Disdamkarmat Garut menekankan bahwa data kumulatif ini bukan sekadar angka statistik, melainkan alarm darurat mengenai ancaman bencana iklim dan kelalaian manusia yang menuntut respons terpadu lintas sektor. ***






















