GOSIPGARUT.ID — SMK Negeri 11 Garut memilih cara berbeda dalam menggelar prosesi pelepasan siswa kelas XII tahun ajaran 2025/2026. Mengusung tema “Sederhana Istimewa”, acara yang dijadwalkan berlangsung pada 6 Mei 2026 ini dipastikan digelar tanpa pungutan biaya sepeser pun dari orang tua siswa.
Kebijakan tersebut diambil sejalan dengan arahan Pemerintah Provinsi Jawa Barat agar kegiatan kelulusan dilaksanakan secara sederhana dan tidak memberatkan masyarakat. Seluruh rangkaian acara akan dipusatkan di lingkungan sekolah dengan mengedepankan kebersamaan dan nilai budaya.
Kepala SMK Negeri 11 Garut, Asep Taryudin, menegaskan bahwa pelepasan siswa seharusnya menjadi momen refleksi, bukan ajang kemewahan.
“Melalui tema ‘Sederhana Istimewa’, kami ingin menunjukkan bahwa makna kelulusan tidak terletak pada tempat atau biaya, tetapi pada kebersamaan, rasa syukur, dan pelestarian budaya,” ujar Asep, Rabu (8/4/2026).
Ia menjelaskan, konsep acara tahun ini akan diisi sepenuhnya oleh penampilan siswa dengan nuansa budaya Sunda. Mulai dari prosesi adat lengser, pertunjukan tari tradisional, hingga alunan musik karawitan akan menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.
Pendekatan tersebut dinilai tidak hanya menekan biaya, tetapi juga memperkuat identitas budaya di kalangan pelajar.
Di sisi lain, Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan Industri, H. Hadia Anggarasa, menuturkan bahwa perhatian utama sekolah saat ini adalah kesiapan lulusan menghadapi dunia kerja.
“Tahun ini ada 109 siswa yang lulus dari tiga jurusan, yakni Teknik Komputer dan Jaringan, Manajemen Perkantoran, serta Teknik Sepeda Motor. Kami fokus memastikan mereka memiliki kompetensi dan kesiapan untuk terserap di industri atau berwirausaha,” kata Hadia.
Menurut dia, pelepasan siswa digelar secara sederhana sebagai bentuk syukuran dan penghargaan kepada orang tua, bukan sebagai kegiatan seremonial yang membebani.
Kebijakan tanpa biaya tersebut pun mendapat sambutan positif dari para wali murid. Mereka menilai langkah sekolah sangat membantu, terutama dalam mengalihkan pengeluaran untuk kebutuhan yang lebih prioritas setelah kelulusan, seperti melanjutkan pendidikan atau persiapan kerja.
Dengan konsep gotong royong dan berbasis budaya lokal, SMK Negeri 11 Garut berupaya membuktikan bahwa acara perpisahan tetap dapat berlangsung khidmat, bermakna, dan berkesan tanpa harus digelar secara mewah. ***



.png)



























