GOSIPGARUT.ID — Wakil Bupati Garut, Putri Karlina, menyampaikan pernyataan terbuka yang mengejutkan di hadapan jajaran birokrasi dan ASN Pemerintah Kabupaten Garut, Senin (23/2/2026). Ia mengakui belum mampu menghadirkan perubahan signifikan selama satu tahun pertama masa kepemimpinannya.
“Kalau ngomongin satu tahun nggak ada perubahan, wajar. Gaya kepemimpinannya begini, slow. Yang di bawah juga slow. Sudah agak ngebut, tapi nggak sebanding dengan tantangan di depan,” ujar Putri.
Ia mengibaratkan laju pemerintahan seperti kapal yang tak cukup cepat untuk menembus ombak besar.
“Kita mau menembus ombak dengan kecepatan sekian, kapalnya kecepatannya di bawah itu, ya nggak tembus. Kalau saya ngegas sendiri, nggak jadi apa-apa,” katanya.
Menurut Putri, perubahan tidak bisa bertumpu pada satu figur. Ia menegaskan, percepatan kinerja hanya dapat terwujud jika seluruh perangkat daerah bergerak bersama.
“Kalau kerjanya barengan, minimal 30 persen Kabupaten Garut ada perbaikan. Tapi itu pun berjangka waktu,” ucapnya.
Dalam forum tersebut, Putri juga menyatakan tak perlu ada mobilisasi massa atau evaluasi berlebihan dari pihak luar. Ia menegaskan telah melakukan introspeksi secara pribadi.
“Saya sudah bisa mengevaluasi diri saya sendiri bahwa saya gagal dalam satu tahun ini. Saya pribadi gagal, tidak ada perubahan yang signifikan. Saya mengakui, saya memohon maaf,” tuturnya.
Selain soal capaian kinerja, Putri turut menyinggung isu integritas. Ia membantah terlibat dalam praktik proyek maupun jual beli jabatan.
“Saya nggak main proyek, demi Allah nggak mainan proyek. Kalau ada yang mengatasnamakan, nggak ada, nggak boleh,” tegasnya.
Putri menyebut integritas pejabat publik dapat dilihat dari perilaku dan gaya hidupnya. Putri mengaku tidak ingin menanggung risiko moral maupun hukum dari praktik-praktik yang menyimpang.
Di akhir arahannya, Putri mengajak seluruh aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemkab Garut untuk menjaga kekompakan dan meningkatkan kinerja dalam empat tahun ke depan.
“Yang kerjanya belum benar, semoga dicerahkan hatinya. Yang sudah benar jangan ikut-ikutan. Empat tahun ke depan kita harus akur dan bersatu,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi refleksi satu tahun kepemimpinan di Kabupaten Garut, sekaligus penegasan komitmen untuk mendorong percepatan perbaikan birokrasi ke depan. ***



.png)















