GOSIPGARUT.ID — Di tengah gempuran era digital dan maraknya jual beli lewat ponsel pintar, sosok Abah Abdul (65), pedagang keliling asal Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, hadir sebagai pengingat bahwa keuletan dan kerja keras tak lekang oleh zaman. Meski usianya tak lagi muda, ia masih setia menjajakan barang-barang langka dan bernilai tradisi, Senin (17/11/2025), di kawasan IBC Garut.
Abah Abdul menjual berbagai perabotan khas Sunda yang kini semakin jarang ditemui, mulai dari gelas, cangkir, hingga sendok berbahan tempurung kelapa (batok). Ia juga membawa coet dan mutu yang terbuat dari kayu kelapa serta pohon aren (kawung), barang-barang yang tak hanya unik, tapi juga sarat nilai budaya.
“Dulu waktu usia 40 sampai 50 tahun, Abah seringnya jualan sampai Bandung, bahkan ke Jakarta,” tuturnya sambil tersenyum kecil. “Sekarang mah hanya ke Garut saja. Sudah nggak kuat naik mobil jauh-jauh.”
Di balik semangatnya yang tampak sederhana, tersimpan kegigihan yang besar. Abah Abdul mengaku sebenarnya sudah dilarang anak-anaknya untuk berjualan karena faktor usia. Namun ia memilih tetap bekerja.
“Sebetulnya Abah sudah dilarang jualan oleh anak-anak. Tapi Abah kesal kalau di rumah terus, dan Abah juga perlu biaya untuk kebutuhan sehari-hari,” ujarnya. “Abah nggak mau membebani anak atau orang lain. Selagi kuat, Abah mah jalan terus.”
Abah Abdul menjelaskan bahwa semua barang yang ia bawa memiliki pengrajinnya masing-masing. Abah Abdul hanya menjadi penjual dengan sistem komisi. Karena modal terbatas, ia kerap harus menuntaskan dagangan sebelum kembali pulang — dan itu berarti Abah Abdul kerap bermalam di masjid atau musala di kota yang ia singgahi.
“Selagi belum habis dagangan, Abah suka tidur di masjid atau musola, tapi tentu minta izin dulu,” katanya. “Seperti hari ini, Abah pasti tidur di masjid kawasan IBC. Ada satpamnya juga.”
Dengan langkah pelan namun tegap, Abah Abdul menutup ceritanya sambil menata perabotan kayu yang ia bawa. Di usianya yang senja, Abah Abdul tetap memilih berjalan, bekerja, dan menjaga martabatnya tanpa bergantung pada siapa pun — sebuah keteguhan hati yang kini justru semakin langka, selangka barang dagangannya. (Iwan Setiawan)



.png)





