Berita

Perempuan Renta Garut Hidup Sendiri di Rumah Lapuk, Yudha Puja Turnawan: Negara Tak Boleh Diam

×

Perempuan Renta Garut Hidup Sendiri di Rumah Lapuk, Yudha Puja Turnawan: Negara Tak Boleh Diam

Sebarkan artikel ini
Emak Awit.

GOSIPGARUT.ID — Di sebuah rumah kecil berdinding bilik bambu di Kampung Cigadog, Kecamatan Sucinaraja, Kabupaten Garut, hidup seorang perempuan renta bernama Emak Awit. Tubuhnya sudah rapuh, rambutnya memutih seluruhnya, dan setiap hari ia hanya ditemani sepi.

Rumahnya hampir roboh. Dinding bambu mulai lapuk, atap bocor di banyak sisi, dan lantainya tanah yang becek setiap kali hujan turun. Di ruang sempit itu, Emak Awit bertahan seorang diri. Suami dan anak tunggalnya telah lama meninggal dunia, meninggalkannya dalam kesunyian dan keterbatasan.

Kondisi memilukan itu diketahui Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Garut, Yudha Puja Turnawan, setelah menerima pesan WhatsApp dari seorang warga bernama Aan Rizkia pada Selasa, 7 Oktober 2025. Pesan itu berisi laporan tentang seorang lansia dhuafa sebatang kara yang tinggal di dekat rumahnya.

Baca Juga:   Legislator Yuda Puja Turnawan Prihatin Sumber Air Bersih di Garut Sudah Berkurang

“Pesannya sederhana tapi menyentuh. Seorang nenek hidup sendirian di rumah yang nyaris roboh,” ujar Yudha, Sabtu (25/10/2025).

Delapan belas hari setelah menerima laporan itu, Yudha datang langsung ke rumah Emak Awit. Ia didampingi Alit Tresnayadi, Kasi PMD Kecamatan Sucinaraja yang juga menjabat Pjs Kepala Desa Cigadog, serta pengurus ranting PDI Perjuangan setempat.

Kedatangan mereka disambut lirih oleh Emak Awit yang duduk di sudut ruangan. Tak ada listrik, tak ada televisi, hanya cahaya redup dari celah dinding bambu yang sudah menguning dimakan usia.

“Emak Awit hidup benar-benar sendiri. Untuk makan pun bergantung pada Teh Keukeu, cucu dari adiknya yang kadang mengantarkan makanan,” tutur Yudha.

Baca Juga:   Kementerian PUPR Minta Pembangunan Tol Cigatas Arah Garut Ditelaah Ulang

Namun, Teh Keukeu juga hidup dalam keterbatasan. Ia sudah berkeluarga dan harus merawat neneknya yang lumpuh, sehingga tak selalu bisa menemani Emak Awit.

“Ini bukan hanya soal kemiskinan, tapi tentang kesepian yang tidak seharusnya dialami oleh seorang warga negara di usia senjanya,” kata Yudha dengan nada prihatin.

Harapan agar Negara Tidak Absen

Dalam kunjungannya, Yudha memberikan tali asih berupa sembako dan santunan uang tunai. Namun ia menegaskan, bantuan pribadi tidak akan mampu menyelesaikan persoalan seperti yang dialami Emak Awit.

“Harapan saya, Kementerian Sosial hadir untuk Emak Awit. Beliau sangat berhak mendapatkan bantuan Rumah Sejahtera Terpadu dari Kemensos RI,” ujarnya.

Baca Juga:   DPO Pelaku Penganiayaan Ditangkap Polisi Saat Melangsungkan Pernikahan di Sucinaraja Garut

Politisi muda ini juga mendorong Pemerintah Kabupaten Garut untuk memperkuat kolaborasi lintas lembaga dalam menangani kasus serupa.

“Pemkab Garut perlu mengoptimalkan pendanaan dari CSR perusahaan, Baznas, LazisMU, LazisNU, dan LazPersis, agar warga miskin seperti Emak Awit tidak terus terpinggirkan,” ucapnya.

Menurut Yudha, banyak Emak Awit lain di pelosok Garut yang hidup tanpa akses bantuan sosial karena keterbatasan data dan perhatian. “Negara harus hadir, bukan hanya lewat laporan atau angka, tapi lewat tindakan nyata di rumah-rumah warga yang seperti ini,” tegasnya. ***

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *