GOSIPGARUT.ID — Delapan puluh tahun Indonesia merdeka, tapi warga Kampung Cileuleuy di Desa Garumukti, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Garut, seperti belum benar-benar merdeka. Mereka terisolasi oleh akses jalan yang rusak parah sepanjang lebih dari 30 kilometer, membuat perjalanan ke luar kampung bak menantang maut.
Bagi warga, keluar kampung bukan perkara sepele. Ongkosnya selangit, risikonya pun tinggi. “Untuk ke kantor desa saja kami harus pikir panjang,” kata Ketua RW Cileuleuy, Jaja (55), saat ditemui Senin, 25 Agustus 2025.
Medan yang terjal, licin, dan rawan longsor membuat kendaraan kerap slip tak mampu menanjak. Tidak ada ojek yang berani masuk ke kampung. Perjalanan menuju kantor Desa Garumukti memakan waktu empat jam. “Itu kalau tidak ada longsor. Kalau ada, bisa sampai delapan jam,” tambah Komar (60), tokoh masyarakat setempat.
Tragedi pun sering terjadi. Warga sakit yang harus dirujuk ke rumah sakit tak jarang meninggal sebelum tiba. Ibu hamil melahirkan di tengah jalan karena tak sanggup menunggu. “Kami lelah, tapi harus bagaimana? Ini derita yang tak pernah selesai,” kata Jaja lirih.
Kesulitan itu kembali dirasakan ketika 23 warga Cileuleuy harus mengambil kartu bantuan sosial PKH/BPNT di kantor unit bank Cikajang. Mereka berangkat pukul 05.30 pagi, tiba di kantor desa pukul 10.30, lalu melanjutkan perjalanan. Semua harus ditebus dengan biaya sewa minibus Rp1,5 juta pulang-pergi.
Ironisnya, bantuan beras pun hanya didrop di kantor desa tanpa distribusi ke kampung. “Kami harus keluar biaya lagi. Padahal ini bantuan untuk orang miskin,” keluh Jaja.
Kepala Desa Garumukti, Ede Sukmana, tak menampik kondisi itu. Ia menyebut status jalan menjadi masalah utama. “Jalan ini awalnya untuk mobilitas perkebunan. Statusnya tidak jelas, apakah provinsi atau kabupaten. Perbaikan butuh biaya besar,” ujarnya.
Sementara itu, warga berharap pemerintah turun tangan. “Kami warga negara Indonesia juga. Masa 80 tahun merdeka, jalan ke kampung kami tidak pernah disentuh pembangunan?” kata Jaja.
Di Cileuleuy, infrastruktur yang abai telah berubah jadi derita. Jalan rusak bukan sekadar lubang dan lumpur. Di sana, ia adalah garis tipis antara hidup dan mati. (Ai Karnengsih)



.png)
























