GOSIPGARUT.ID — Ketika sebagian besar anak-anak seusianya berangkat sekolah dengan kendaraan nyaman dan jalan mulus, lain halnya dengan Muhammad Rizki, siswa kelas dua SMP Negeri 3 Cisompet, Kabupaten Garut. Setiap hari, bocah 14 tahun itu harus menyusuri jalan bebatuan, menembus kabut, dan melawan rasa takut akan hewan buas demi satu hal: tetap bisa bersekolah.
Rizki tinggal di Kampung Cibeureum, Desa Sindangsari, Kecamatan Cisompet. Dari rumahnya menuju sekolah, ia dan tujuh rekannya mesti menempuh perjalanan belasan kilometer. Jalan yang mereka lalui sebagian besar berupa tanah licin yang mudah longsor saat hujan. Belum lagi ancaman babi hutan atau ular yang kerap melintas di jalur setapak.
“Mereka berangkat setelah subuh, masih gelap, pakai senter menyusuri jalan berkabut. Kalau ongkos ojeg kan mahal, bisa Rp60 ribu sekali pulang-pergi. Sementara orang tua mereka rata-rata hanya berpenghasilan Rp50 ribu per hari,” kata Ketua RW Kampung Cibeureum, Erus, Minggu (17/8/2025).
Rizki sendiri hidup dalam kondisi yang tidak mudah. Ayahnya pergi meninggalkan keluarga sejak ia berusia lima tahun. Sang ibu memilih berpisah dan menikah lagi. Sejak itu Rizki diasuh oleh neneknya, Suliah (68), yang tidak lagi memiliki penghasilan tetap. Dulu Suliah hanya sempat bekerja sebagai buruh perkebunan dengan upah seadanya.
“Iya, Rizki itu sekarang sama neneknya. Hidupnya pas-pasan sekali,” ujar Erus.
Kondisi jalan yang rusak tak hanya mempersulit anak-anak sekolah. Menurut warga, ketika ada orang sakit, mereka harus digotong dengan sarung menuju jalan besar. Aktivitas ekonomi pun ikut terhambat karena ongkos transportasi membengkak.
Yudi Kurnia, penggiat pemberdayaan masyarakat, menilai kasus Rizki hanyalah potret kecil dari masalah pendidikan di Garut Selatan. Tingginya angka putus sekolah di wilayah ini, kata dia, tak hanya soal jarak dan infrastruktur buruk, melainkan juga rendahnya kesadaran orang tua.
“Banyak anak dipaksa bekerja untuk membantu ekonomi keluarga, bahkan ada yang dinikahkan dini. Padahal jika ada orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya, mereka sering terhenti di soal biaya operasional,” jelas Yudi.
Erus berharap pemerintah lebih serius membangun akses jalan ke kampung-kampung terpencil seperti Cibeureum dan Citamiang di Desa Cikondang, yang mengalami persoalan serupa.
“Kalau jalannya bagus, anak-anak sekolah lebih aman. Warga juga lebih mudah mengakses layanan kesehatan dan ekonomi,” ujarnya.
Di tengah segala keterbatasan, Rizki tetap berkeras melanjutkan sekolah. Baginya, setiap langkah melelahkan di jalan terjal menuju SMP adalah investasi masa depan. Sebuah perjuangan yang menunjukkan betapa pendidikan, di beberapa sudut Garut, masih harus ditempuh dengan peluh dan nyali. (Ai Karnengsih)



.png)











