Berita

Menembus Jalan Lumpur di Ujung Garut, Dua Penyuluh Pertanian yang Tak Pernah Mundur

×

Menembus Jalan Lumpur di Ujung Garut, Dua Penyuluh Pertanian yang Tak Pernah Mundur

Sebarkan artikel ini
Ayi Rukmana dan Kuraesin, dua penyuluh pertanian di Kecamatan Talegong, Kabupaten Garut.

GOSIPGARUT.ID — Kabut pagi masih bergelayut di lereng Talegong ketika Ayi Rukmana menyalakan motor trail tuanya. Suara mesin 150 cc keluaran 2014 itu meraung pelan sebelum melaju menyusuri jalur setapak berbatu. Di beberapa titik, jalan yang ia lintasi nyaris tertutup lumpur.

Setiap hari, pria 50 tahun itu menempuh 5 kilometer dari rumahnya di Kampung Kubang, Desa Sukamulya, menuju Balai Penyuluh Pertanian (BPP) di Kampung Pasirawi. Tiga kali seminggu, ia melangkah lebih jauh: 30 kilometer ke Desa Mekarmukti dan Selaawi—dua desa di perbatasan Garut, Bandung, dan Cianjur—yang jalannya memaksa pengendara ekstra hati-hati.

Baca Juga:   42 Penyuluh Pertanian Distan Garut Ikuti Bimbingan Teknis Podcast

“Kalau tergelincir di sini, bisa-bisa motor nyungsep ke sawah,” katanya sambil menghela napas.

Sejak 2007, Ayi mengabdikan hidupnya untuk petani di wilayah yang jauh dari pusat kota ini. Dari tenaga honorer, ia akhirnya diangkat menjadi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) pada 2021. Kini, ia memimpin lima penyuluh lainnya, memastikan program pertanian tetap menjangkau sudut-sudut paling terpencil.

Baca Juga:   Hadapi Krisis Besar, Wabup Helmi Budiman Minta Penyuluh Pertanian di Garut Bersatu

Di sisi lain Talegong, Kuraesin, 45 tahun, memulai hari dengan menempuh 25 kilometer dari rumahnya di Kampung Sukasenang, Desa Pamalayan, Cisewu. Jalan menuju kantor BPP relatif mulus. Namun medan ke Desa Mekarwangi—desa binaannya—berbeda cerita. 25 kilometer jalur terjal dan rusak parah menjadi teman setia perjalanan.

Berbeda dengan Ayi, Kuraesin tak punya motor inventaris. Ia mengandalkan motor pribadinya yang sudah lelah menelan debu dan batu. “Kalau rusak, ya diperbaiki. Tidak ada pilihan lain,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Baca Juga:   Penyuluh Pertanian Cisewu Gotong Royong Perbaiki Jalan Rusak Menuju Kantor BPP

Keduanya sama-sama sarjana pertanian. Bagi mereka, medan berat bukan alasan untuk mundur. Sebab di ujung perjalanan, para petani menunggu—membutuhkan panduan, informasi, dan semangat agar sawah tetap hijau.

“Kadang pulang sudah gelap, badan lelah, tapi hati lega,” kata Ayi. Kuraesin mengangguk, menambahkan, “Di sini, jadi penyuluh bukan cuma soal tanam-panen. Ini soal bertahan dan menghidupi harapan.” ***

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Respon (2)

  1. selamat saudaraku pengabdian Penyuluh pertanian yanh luarbiasa, bekerja dibawah terik sinar matahari, tdk mengenal hari libur, semua akan bernilai ibadah. salam swasembada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *