GOSIPGARUT.ID — Di balik pesona pantai selatan Garut, wilayah Pameungpeuk menyimpan jejak sejarah panjang yang tak banyak diketahui publik. Mulai dari kisah kerajaan, pemindahan aliran sungai oleh seorang raja, hingga geliat perdagangan kolonial di era Hindia Belanda. Pemerhati kesejarahan dan budaya, Kang Oos Supyadin SE MM, mengungkap rangkaian cerita sejarah yang menempatkan Pameungpeuk sebagai simpul penting dalam peta masa lampau Tanah Priangan.
“Dalam banyak referensi sejarah, disebutkan bahwa Cilauteureun menyimpan banyak jejak penting. Di sana dimakamkan Prabu Geusan Oeloen, juga terdapat makam Eyang Balung Tunggal yang dikenal sebagai Dalem Kandangwesi. Bahkan, di sana pula pertama kali dibangun hotel pantai oleh Belanda yang dikenal dengan nama Surga yang Kesepian di Bibir Pantai,” ungkap Kang Oos, membuka kisahnya.
Pameungpeuk yang dikenal hari ini, menurut Kang Oos, dulunya merupakan bagian dari wilayah bernama Nagara, dengan harapan menjadi pelabuhan internasional layaknya Sunda Kelapa di Batavia. Wilayah ini awalnya berada dalam administrasi Kabupaten Sukapura sebelum akhirnya bergabung ke Kabupaten Garut.
Legenda Batu Pameungpeuk
Asal-usul nama Pameungpeuk memiliki kisah yang menarik. Nama ini merujuk pada tindakan meungpeuk (menutup) aliran sungai yang dilakukan oleh Prabu Arbawisesa, putra sulung dari Prabu Geusan Oeloen. Dikisahkan, sang prabu mendapatkan mimpi bahwa makam ayahnya di Cilautereun akan terendam banjir akibat luapan Sungai Cimandalakasih.
“Demi menjaga makam leluhurnya, Prabu Arbawisesa memutuskan untuk mengalihkan aliran sungai bersama rakyatnya. Batu besar yang menyumbat aliran sungai itulah yang kemudian disebut Batu Pameungpeuk, yang menjadi asal mula nama daerah ini,” tutur Kang Oos.
Kawedanan Nagara dan Masa Keemasan Karet
Pada masa kolonial, Pameungpeuk merupakan bagian dari Kawedanan Nagara — kawasan administratif yang meliputi Pameungpeuk, Bodjong, Rantjaherang, dan Cisompet. Kawedanan ini kemudian dimekarkan menjadi empat onderdistrik pada tahun 1882: Cisompet, Cikelet, Cibalong, dan Pameungpeuk.
Menurut Kang Oos, era 1930-an menjadi masa keemasan Garut selatan, khususnya dalam sektor perkebunan. “Perkebunan karet berkembang pesat di kawasan ini. Belanda membangun pabrik-pabrik karet di Cibalong, Cisompet, Cikelet hingga Bangbayang di Pameungpeuk. Komoditas karet dari Garut Selatan bahkan diekspor ke berbagai negara,” jelasnya.
Dermaga Santolo dan Hotel Pertama di Pulau Jawa
Pusat distribusi karet dan rempah-rempah pada masa kolonial terletak di Dermaga Santolo, yang dibangun antara tahun 1910–1913. Dermaga ini bukan hanya melayani pengiriman hasil bumi, tapi juga menjadi jalur pengangkutan material pembangunan infrastruktur di wilayah selatan Garut.
Uniknya, jauh sebelum pembangunan dermaga tersebut, Belanda lebih dulu mendirikan Hotel Cilauteureun pada sekitar tahun 1850. Fakta ini diungkap Kang Oos berdasarkan arsip harian Bataviaasch Nieuwsblad yang terbit 29 Desember 1925.
“Hotel Cilauteureun menjadi hotel pertama di Pulau Jawa yang berdiri di tepi pantai. Ini menunjukkan bahwa kawasan Cilauteureun sudah dikenal sejak lama sebagai destinasi elit kolonial,” ungkapnya.
Menjaga Warisan Leluhur
Kini, jejak-jejak sejarah itu masih dapat ditemukan, meski sebagian telah tertutup oleh perkembangan zaman. Namun, Kang Oos menegaskan pentingnya menjaga dan menghidupkan kembali narasi-narasi lokal agar tidak hilang ditelan modernisasi.
“Pameungpeuk bukan sekadar kecamatan biasa. Ia adalah simpul sejarah yang menghubungkan masa kejayaan kerajaan Sunda, kolonialisme Belanda, dan cita-cita masa depan kawasan selatan Garut,” pungkas Penasehat Paguyuban Asgar Buana Nusantara Ngahiji ini. ***



.png)





