GOSIPGARUT.ID — Di tengah gencarnya program pemerintah membantu pendidikan siswa kurang mampu melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP), kisah memilukan datang dari pelosok Desa Garumukti, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Garut.
Seorang siswi bernama Keysa Rianti (15), harus menempuh jarak hingga 15 kilometer setiap hari demi bisa sekolah, namun hingga kini tidak tercatat sebagai penerima bantuan KIP.
Keysa, gadis yatim yang ditinggal ayahnya sejak duduk di bangku sekolah dasar, saat ini bersekolah di SMP Negeri 1 Pamulihan. Bersama ibunya, Yanti (43), dan dua saudaranya, Keysa hidup dalam keterbatasan ekonomi. Meski demikian, semangat belajarnya tidak pernah luntur.
Setiap hari, Keysa berjalan kaki bersama teman-temannya sejak usai salat subuh. Perjalanan sejauh belasan kilometer itu harus mereka lalui melewati jalan hutan dan perkebunan, menembus kabut dan dinginnya udara pagi. Bila turun hujan, anak-anak tersebut tetap berjalan dalam kondisi basah kuyup karena takut terlambat masuk kelas.
“Kalau hujan, buku sering basah, sepatu cepat rusak, tapi tetap harus jalan karena enggak ada kendaraan,” ujar salah satu warga setempat.
Lebih menyedihkan, bantuan pendidikan dari negara yang seharusnya bisa meringankan beban Keysa ternyata tidak pernah sampai kepadanya. Ia tidak tercatat sebagai penerima KIP, baik saat ini di SMP maupun saat masih di SD Garumukti 1.
Padahal, berdasarkan pengakuan pihak keluarga, saat di SD, Keysa termasuk penerima bantuan KIP. Namun, dana tersebut diduga telah dicairkan tanpa sepengetahuan orang tua. Hal serupa dialami oleh 67 siswa lain di sekolah yang sama.
Pihak keluarga bahkan telah melakukan pengecekan rekening dan membuat laporan ke kepolisian. Proses Berita Acara Pemeriksaan (BAP) pun sudah dilakukan. Namun hingga kini, tidak ada kejelasan dari pihak sekolah mengenai pertanggungjawaban pencairan dana KIP tersebut.
“Saya enggak tahu harus bagaimana. Takut bicara, takut diintimidasi,” kata Yanti, ibu Keysa, lirih.
Kisah Keysa menjadi potret buram dari sistem distribusi bantuan pendidikan yang tidak berjalan semestinya. Di tengah semangat besar anak-anak pelosok seperti Keysa untuk menggapai cita-cita, negara justru absen dalam memberikan dukungan yang layak.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak SD Garumukti 1 maupun Dinas Pendidikan Kabupaten Garut terkait dugaan penyimpangan bantuan KIP tersebut. (Ai Karnengsih)



.png)












Ternyata orang di sana perampok juga ya? Tidak nyangka