DALAM waktu yang sangat singkat hampir seluruh Afghanistan telah jatuh ke tangan Thaliban. Nyaris tanpa perlawanan yang berarti.
Masalahnya kaum nasionalis yang moderat sama sekali tidak terlihat ada kegairahan untuk berjuang. Mereka tidak berani berhadapan dengan kaum radikal.
Ketika bertempur, kaum nasionalisnya lari tunggang langgang. Sibuk menyelamatkan diri sendiri, padahal akhirnya nanti mereka akan diburu dan dibunuh seperti tikus di dalam got oleh kaum radikal.
Di negeri ini, kaum nasionalis harus punya kekuatan spiritual yang kuat, dan dekat-dekatlah dengan kelompok Islam. Kalau tidak, nasib kita di Indonesia akan sama seperti dengan Afghanistan!
Mereka kaum radikal ada sebagai wujud dari rasa kekecewaan terhadap pemerintah negara, namun dibumbui oleh pemahaman keyakinan yang dangkal. Sementara kaum nasionalis yang mengaku telah beragama secara moderat itu tidak punya tujuan yang jelas.
Tidak ada tokoh nasionalis yang bersuara membangun semangat gigih.
Semua sibuk mencari kekuasaan dan mungkin sekali juga hanya mau mencari uang secara mudah. Tidak terlihat ada greget untuk membangun bangsa.
Membangun bangsa perlu idealisme, padahal semangat idealisme yang saat ini ada dianggap sebagai sebuah ketololan.
Selama ini, yang terlihat, para politisi kaum nasionalis sangat menyedihkan hanya seperti “scavenger” hewan pemakan bangkai yang maunya makan saja tanpa perlu berjuang. Mereka jauh lebih sibuk saling menjelekkan daripada bekerja sama. Saling mencela dan tidak membangun kritik yang sehat dan bertujuan yang ikhlas.
Kembali ke masalaah Afghanistan, pemerintah Afghanistan yang didukung oleh negara-negara barat, adalah pemerintahan boneka yang minim dukungan rakyatnya. Ternyata terdiri dari para pecundang dan pencoleng.
Militer Afghanistan di masa lalu selalu minta uang untuk merekrut dan melakukan training tentara mereka. Tetapi, ketika pengabdian mereka diperlukan, kenyataannya sangat rapuh sekali.
Mereka, pemerintah Afghanistan berikut militernya total menerima bantuan dari Amerika dan sekutunya di barat sebesar 90 miliar dollar untuk pembangunan, rekruitmen pegawai, tentara, dan untuk training. Ternyata uang itu hampir semua dicuri oleh para pejabatnya yang sekarang mungkin sudah sebagian besar meninggalkan Afghanistan.
Thaliban bisa berkuasa di berbagai provinsi, dan saat ini sudah di gerbang Kabul nyaris tanpa perlawanan.
Semoga kita tidak sedang menuju kearah apa yang terjadi di Afghanistan sekarang. Semoga Tuhan yang Maha Kuasa dan jiwa anak-anak bangsa yang belum lahir bisa berdoa agar para pemimpin dan para pejabat kita diberi kesadaran. ***



.png)









