GOSIPGARUT.ID — Rosita Amelia (31), guru honorer di SDN 3 Nyalindung, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, menjadi dikenal gegara aksinya yang dianggap mulia. Di tengah diberlakukannya belajar di rumah bagi siswa sekolah karena pandemi Covid-19, ia rela berkeliling ke rumah siswa untuk memberikan pelajaran kepada anak didiknya itu.
Tentu pula apa yang dilakukan Rosita dan sejumlah guru honorer di Kecamatan Cisewu yang melakukan hal serupa itu seringkali tidak berjalan mulus. Kondisi akses jalan yang rusak, ancaman bencana tanah longsor, dan jarak tempuh yang jauh, menjadi kendala setiap mendatangi rumah siswa.
Seperti dialami Fitri Sri Gustiati, guru honorer SDN 2 Pamalayan, Kecamatan Cisewu, jarak tempuh dari tempat tinggalnya menuju rumah siswanya bisa lebih dari satu jam menggunakan sepeda motor. Bahkan ada rumah siswa yang tidak bisa dilintasi kendaraan roda dua sehingga harus berjalan kaki.
Selain Fitri dan Rosita, masih ada dua guru honorer lainnya di Kecamatan Cisewu yang melakukan berkeliling ke rumah siswanya untuk mengajar. Mereka adalah Jajang Nurjaman guru honorer SDN 2 Nyalindung, dan Ratnengsih guru honorer di SDN 2 Cikarang.
“Jadi jumlah guru yang melakukan aksi berkeliling (dari pintu ke pintu) rumah siswa untuk mengajar ada empat orang. Semuanya adalah guru honorer yang dikenal di masing-masing sekolahnya giat mengajar,” kata Koordinator Wilayah (Korwil) Dinas Pendidikan Kecamatan Cisewu, Agus Rajab, Rabu (22/4/2020).
Ia menjelaskan, dalam situasi darurat corona dan saat pelaksanaan social distancing, seluruh siswa sekolah dasar (SD) di Cisewu belajar mandiri. Dan, karena sejumlah tempat di Cisewu tidak terjangkau sinyal seluler, maka keempat guru honorer itu melakukan home visiting ke rumah siswa untuk mendampingi belajar mandiri di rumah.

“Kami cukup bangga memiliki guru honorer yang dengan sukarela mau memberikan pelajaran kepada siswa di tengah situasi darurat Covid-19. Kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang tak terhingga kepada keempatnya,” ujar Agus Rajab.
Diterangkan Rosita, setiap hari dengan kondisi cuaca yang cerah, para guru honorer itu mampu mendatangi dua sampai tiga rumah siswa. Selanjutnya mengunjungi rumah siswa di hari berikutnya dengan jarak rumah yang sama-sama jauh.
“Dalam sehari saya bisa mendatangi dua sampai tiga anak, tergantung situasi, kondisi dan cuaca, karena siswa satu dengan siswa lain jaraknya sama jauh,” kata guru lulusan Tarbiyah Universitas Yayasan Miftahussalam, Bandung itu.
Ia mengungkapkan, proses belajar mengajar di pelosok Garut itu memiliki tantangan dan pengalaman tersendiri, termasuk dapat mengetahui langsung kondisi rumah siswa, juga perjuangan siswa saat berangkat maupun pulang sekolah yang ditempuhnya dengan berjalan kaki.
Kondisi sekolah yang masih memprihatinkan itu, Rosita berharap kepada pemerintah untuk memperhatikan akses sekolah, termasuk kondisi bangunan agar siswa dapat belajar dengan nyaman dan aman. (Ad/Ant)



.png)











