GOSIPGARUT.ID — Tradisi ini cukup populer di kalangan masyarakat Kabupaten Garut untuk menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan. Kata Munggahan berasal dari ungkapan munggah, yang berarti naik atau meningkat. Secara harfiah tradisi Munggahan mampu meninggikan derajat seseorang dalam perubahan di berbagai hal, terutama soal kebaikan di bulan Ramadhan nantinya.
Bagi masyarakat Sunda di Kabupaten Garut, acara munggahan biasa digunakan sebagai penyambutan hari pertama bulan suci Ramadhan dan dianggap mampu meningkatkan kualitas ibadah dan ketakwaan kepada Allah SWT selama bulan suci Ramadhan.
Ada dua macam istilah munggahan. Pertama munggah adat, yakni adanya peningkatan dalam hal adat atau kebiasaan yang berkembang di masyarakat sekitar.
“Contoh, biasanya kalau makan cuma dengan telur, di bulan Ramadan meningkat menjadi makan dengan daging,” kata Cecep Jaya, pimpinan Pondok Pesantren Nurul Huda, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut.
Kedua munggah darajat, yakni adanya peningkatan derajat ketakwaan seseorang selama melaksanaan bulan suci Ramadhan. “Yang awalnya jarang beribadah dengan datangnya Ramadhan, maka menjadi lebih rajin,” kata dia.
Budayawan Garut Franz Limiart menambahkan, bagi masyarakat Sunda, tradisi munggahan sudah diwariskan sejak lama secara turun-temurun, sebagai bagian penyambutan bulan suci Ramadhan.
“Biasanya diisi syukuran makan-makan secara bersama, hitung-hitung makan terakhir siang hari besok mau puasa,” papar dia. (Mrdk)



.png)










