GOSIPGARUT.ID — Dari puluhan korban terdampak tanah longsor di Kampung Legokbintinu, Desa Sukamaju, Kecamatan Talegong, Kabupaten Garut, yang kini berada di tempat pengungsian, termasuk enam siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) 3 Sukamaju.
Keenam siswa tersebut adalah Acep S (kelas 1), Denis (kelas 3), Imas (kelas 3), Titin (kelas 3), Roni (kelas 4), dan Siti (kelas 6). Bagi mereka, terjadinya longsor yang menenggelamkan kampung halamannya sungguh telah mendatangkan hikmah tersendiri.
Hikmahnya itu, sebagaimana dikatakan Kepala Seksi Sarana Prasarana Bidang Sekolah Dasar pada Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Ma’mun Gunawan, setelah berada di tempat pengungsian yang jaraknya relatif cukup dekat dari SDN 3 Sukamaju, mereka jadi tidak terlalu jauh bila berangkat ke sekolah.
“Jumat (21/2/2020) saya sempat mengunjungi lokasi longsor di Desa Sukamaju, Kecamatan Talegong. Memang ditemukan, ada hikmah bagi enam siswa SDN 3 Sukamaju dengan terjadinya longsor yang menerjang kampung halamannya itu. Di mana, setelah mereka ada di tempat pengungsian, jarak ke sekolahnya menjadi dekat,” terang dia.
Hikmah lainnya, lanjut Ma’mun, dengan terjadinya longsor di Kampung Legokbintinu, SDN 3 Sukamaju jadi dikunjungi Wakil Bupati Garut, Helmi Budiman pada Jumat (21/2/2020). “Kepada anak-anak SDN 3 Sukamaju, Pak Wabup malah memberi uang jajan segala,” ujarnya.
Makmun menjelaskan, SDN 3 Sukamaju yang berlokasi di Kampung Datarjeruk, Desa Sukamaju, kondisinya aman karena cukup jauh dari lokasi terjadinya longsor. SD ini pun tidak termasuk dalam rencana relokasi seperti puluhan warga Kampung Legokbintinu yang harus segera pindah ke tempat baru karena tempat lama masih rawan terjadinya pergerakan tanah.
“Nah inilah yang disebut hikmah bagi keenam siswa SDN 3 Sukamaju. Seandainya terjadi relokasi warga dari Kampung Legokbintinu ke tempat baru yang disarankan Pak Bupati ketika berkunjung ke lokasi bencana Kamis (20/2/2020), jarak antara SDN 3 Sukamaju dengan tempat relokasi cukup dekat. Anak-anak tidak perlu jauh pergi ke sekolah,” katanya.
Dibenarkan oleh Kepala SDN 3 Sukamaju, Enung, bahwa jarak antara sekolahnya dengan tempat yang rencananya akan dipakai sebagai tempat baru bagi warga Kampung Legokbintinu relatif cukup dekat. Hal itu berbeda dengan jarak antara sekolah dengan lokasi longsor yang jauhnya mencapai 1 kilometer lebih.
“Jika masih di Legokbintinu, anak-anak pergi ke sokolah itu pasti harus diantar menggunakan sepeda motor saking jauh dan medannya berat. Tapi nanti, kalau sudah di tempat baru, anak-anak ke sekolah cukup jalan kaki saja,” kata Enung. ***



.png)











