oleh

“Miara Hulu Cai”, Ritual Warga Cikangkung Agar Terhidar dari Kekeringan

GOSIPGARUT.ID — Tetabuhan yang dimainkan sejumlah seniman terdengar menggema ke seisi kampung. Tetabuhan itu pun tiada henti berirama, mengiringi perjalanan seniman dan masyarakat menuju sebuah sumber air yang ada di kampung tersebut.

Aki Emis (78 tahun), seorang sesepuh, duduk bersimpuh memimpin do’a, begitu rombongan tiba di sumber air. Asap kemenyan membumbung ke angkasa. Kemudian tujuh buah garam dapur dilemparkan ke tengah-tengan mata air yang tengah mulai surut.

Begitulah prosesi ritual “Miara Hulu Cai” yang dilakukan warga RW 06, Kampung Cikangkung, Desa/Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, Minggu (29/10/2019). Ritual ini yaitu sebuah kegiatan budaya dengan tujuan agar masyarakat sadar menjaga alam yang saat ini dilanda kerusakan.

“Di mana kerusakan alam itu berdampak pada berkurangnya sumber vital kehidupan masyarakat. Pembabatan hutan secara masif menjadikan air menyusut. Kini masyarakat tengah dilanda bencana kekeringan, setelah beberapa bulan terjadi musim kemarau hingga saat ini,” ujar Anggi Febriana, ketua pelaksana kegiatan ritual.

Baca Juga:   PCNU Garut Imbau Warga untuk Saling Menghormati di Bulan Puasa

Ia melanjutkan, kondisi yang terjadi di daerahnya saat ini sangatlah tepat dijadikan sebuah tema di helaran budaya “Hajat Lembur Kampung Cikangkung” 2019 yang digelar di RT 02/RW 06, Kampung Cikangkung, Desa/Kecamatan Cisewu, tanggal 27, 28, 29 September lalu.

Kegiatan tersebut difasilitasi oleh Rumah Budaya Sunda Galuh Pakuan Kecamatan Cisewu, sebuah sanggar seni yang konsen terhadap pelestarian budaya sejak 2009, dan didukung oleh Jalu Fartner (pimpinan Mfey Ferdi).

Prosesi ritual “Miara Hulu Cai”. (Foto: Gun Gunawan)

Turut hadir dalam event tahunan tersebut adalah sejumlah budayawan Bandung, di antaranya Bah Nanu (Mas Nanu Muda), Agus Injuk, Ridwan CH, Madris, dan Yakob.

Baca Juga:   MUI Garut Minta Datangkan Dokter Jiwa Untuk Periksa Nabi Palsu

“Manusia dan alam adalah sebuah sistem yang tak bisa dipisahkan satu sama lain. Jika manusia merusaknya, maka tunggulah akibatnya akan berdampak pada manusia sendiri, ” tutur budayawan Ridwan.

Budayawan lainnya, Bah Nanu, sangat mengapresiasi helaran “Hajat Lembur” yang diisi beberapa jenis seni tradisional (wayang golek pimpinan Dalang Kodrat Taryana, gegel jubleg, reog, calung Campaka Wargi, jaipongan Swanda Tari, lais, dan bajidoran Ida Zipo) tersebut.

Baca Juga:   LDKS SMKN 1 Garut Alami Peningkatan Tiap Tahun

“Budaya leluhur harus terus dijaga, alam harus terus dipelihara agar manusia menuai balasan kebaikan dari semesta. Saya berharap, acara tahunan ini terus dilaksanakan, sehingga kesadaran masyarakat akan menjaga budaya dan menjaga alam kembali dilakukan seperti leluhurnya dahulu,” ujar dosen ISBI Bandung itu. (Gun Gunawan)

Komentar