GOSIPGARUT.ID — Kerugian ekonomi petani di Kabupaten Garut akibat kekeringan melanda komoditas tanaman padi sawah, jagung, dan kedelai (pajale) hingga kini terus bertambah mencapai Rp120.977.233.675.
Hal itu seiring meluasnya lahan ketiga tanaman komoditas pangan mengalami kekeringan tersebut mencapai sekitar 4.886 hektare dengan seluas 4.479 hektare di antaranya puso atau gagal panen.
Menurut Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) di Kabupaten Garut Syarifudin didampingi staf Ahmad Firdaus, total kerugian kekeringan pada tanaman padi sawah hingga per 28 Agustus 2019 tercatat mencapai senilai Rp80.399.334.675.
Luas tanaman padi mengalami kekeringan sendiri mencapai 2.971 hektare dengan seluas 1.679 hektare di antaranya puso, 621 hektare kekeringan berat, 377 hektare kekeringan sedang, 294 hektare kekeringan ringan, dan seluas 2.650 hektare lainnya terancam kekeringan.
“Untuk padi diasumsikan harga GKG (gabah kering giling) Rp5.500 per kilogram, dan produktivitas padi 5.921 kilogram per hektare,” kata Syarifudin, Sabtu (31/8/2019).
Kerugian tanaman jagung akibat kekeringan mencapai senilai Rp37.281.788.000 dari total luas areal tanaman jagung alami kekeringan mencapai 1.602 hektare dengan seluas 1.196 hektare di antaranya puso.
“Untuk jagung, diasumsikan harga PK (pipilan kering)nya Rp3.500 per kilogram, dan produktivitasnya 7.558 kilogram per hektare,” ujar Syarifudin.
Sedangkan total nilai kerugian akibat kekeringan pada tanaman kedelai mencapai sebesar Rp3.296.111.000 dari lahan tanaman kedelai mengalami kekeringan mencapai seluas 313 hektare dengan seluas 312 hektare di antaranya puso.
“Untuk kedelai, diasumsikan harga BK (biji kering) kedelainya Rp7.000 per kilogram, dan produktivitasnya sebanyak 1.508 kilogram per hektare,” ujarnya lagi.
Dikatakan, kekeringan pada tanaman padi sawah tersebar di 280 desa di 41 dari 42 kecamatan di Garut. Sedangkan kekeringan pada tanaman jagung tersebar di 11 kecamatan, dan kekeringan pada tanaman kedelai tersebar di 7 kecamatan.
Akibat kekeringan tersebut, tak pelak, ratusan ribu petani didominasi petani gurem terdampak kehilangan penghasilan, dan terancam rawan daya beli. (IK/Zainulmukhtar)



.png)














