GOSIPGARUT.ID — Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Garut mengimbau masyarakat khususnya panitia penyelenggara ibadah kurban agar tidak berlama-lama mendistribusikan daging hewan kurban kepada masyarakat.
Hal itu agar kondisi daging selain masih segar, juga tercegah dari kemungkinan tercemar bakteri yang dapat membuat daging cepat busuk. Sehingga kualitas daging mengalami penurunan.
“Daging harus terbagikan minimal empat jam setelah pemotongan. Jangan dikumpulkan dulu, bagus dipotong-potong untuk kemudian ditimbang dan dibagikan, seperti kebiasaan di masyarakat selama ini” ingat Kepala Bidang Kesehatan Hewan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan Kesmapet) Disnakkanla Garut Diah Savitri didampingi staf Seksi Kesmapet M Hasanuddin, Minggu (4/8/2019).
Menurut Hasanudin, selama ini, jika di suatu tempat terdapat penyelenggaraan kurban lebih dari satu ekor hewan kurban, masyarakat umumnya terbiasa mengumpulkan lebih dahulu daging semua hewan kurban yang telah dikuliti, dan dipotong-potong itu, sebelum ditimbang, dan dibagi-bagikan. Sehingga jarak waktu pembagian daging kurban setelah penyembelihan bisa cukup lama, dan tidak sama, antara satu ekor hewan kurban dengan hewan kurban lainnya.
Padahal cara tersebut kurang baik. Daging hewan kurban terbiarkan di tempat terbuka dalam waktu lebih empat jam sangat rentan terkena bakteri, dan penyebarannya sangat cepat. Peluang terjadinya pencemaran semakin tinggi jika hewan kurban mencapai jumlah banyak, sedangkan jumlah petugas pengelolanya terbatas.
“Kalau hewan kurbannya lebih satu ekor. Sebaiknya hewan kurban pertama setelah disembelih itu langsung diurus, dan secepatnya dibagikan. Sebab kalau daging sudah ada di tangan masyarakat kan bisa segera diamankan, disimpan di lemari pendingan, misalnya. Jangan tunggu hewan kurban berikutnya dulu !” ingat Hasanudin lagi.
Selain daging mesti secepatnya terdistribusikan ke masyarakat penerima, lanjutnya, guna menjaga kualitas serta higienitas daging kurban maka sarana prasarana pemotongan daging pun mesti diperhatikan higienitasnya. Tempat pengumpulan sementara daging kurban yang biasanya beralaskan bilik bambu, atau terpal, jangan menjadi pijakan lalu lalang orang.
“Kalau perlu, saat memotong-motong daging kurban itu, dibuat jalur khusus untuk lalu lalang di tengah. Sedangkan tumpukan daging biarkan aman di sebelah kiri, atau kanannya !” kata Hasanudin.
Kantung pembungkus daging hewan kurban pun sebaiknya dihindari dari bahan plastik atau keresek hitam melainkan bahan alami atau plastik ramah lingkungan.
“Penggunaan besek yang dari anyaman bambu, itu sangat dianjurkan. Selain ramah lingkungan, dan bisa mencegah bakteri pembusuk, secara ekonomi juga mendorong geliat ekonomi pengrajin lokal,” ucapnya. (IK/Zainulmukhtar)



.png)





