GOSIPGARUT.ID — Pimpinan Daerah Aisyiyah Kabupaten Garut melaksanakan pertemuan multistakeholder membahas program Layanan Lansia Terintegrasi (LLT) yang difasilitasi oleh Bappeda Garut di Aula Bappeda, Senin (25/8/2025). Program ini digadang menjadi tonggak baru penguatan layanan bagi kelompok usia lanjut yang selama ini kerap terpinggirkan.
“Kebetulan Kabupaten Garut ditunjuk menjadi salah satu lokus penyelenggaraan LLT oleh pemerintah pusat melalui inisiasi PD Aisyiyah Garut. Ini sejalan dengan cita-cita Bupati untuk mewujudkan Garut Hebat yang berkelanjutan,” kata Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Bappeda Garut, Agus Dinar.
Menurut Agus, layanan ini tidak semata soal kesehatan, melainkan juga bagaimana mendorong kemandirian ekonomi dan akses administrasi para lansia. “Lansia kerap dianggap tidak produktif. Padahal, mereka tetap berhak mendapatkan akses layanan. Harapannya di Garut bisa terbentuk model layanan terpadu untuk lansia yang lebih manusiawi,” ujarnya.
Untuk tahap awal, program LLT difokuskan di Kecamatan Sukawening, tepatnya di Desa Pesanggrahan, dengan melibatkan sekitar 55 ribu lansia di Garut.
Ketua PD Aisyiyah Garut, Eti Nurul Hayati, menyebut pilot project di Pesanggrahan menjadi kepercayaan pemerintah pusat kepada Aisyiyah. “Ini tindak lanjut dari kegiatan di Jogjakarta. Selanjutnya kami akan membentuk kepengurusan LLT di tingkat desa sesuai penunjukan Bappenas,” tuturnya.
LLT sendiri memiliki tiga kategori layanan: pertama, bagi lansia yang masih sehat dan produktif; kedua, produktif namun memiliki keterbatasan kesehatan; dan ketiga, lansia yang membutuhkan perawatan jangka panjang.
Namun, Eti mengakui ada tantangan besar di balik program ini: ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang mau bekerja tanpa bayaran. “Kepengurusan LLT harus mencari orang yang betul-betul ikhlas. Tidak ada gaji, tidak ada honor. Mudah-mudahan warga Desa Pesanggrahan bersedia,” katanya.
Program ini ditujukan untuk kelompok lansia berusia 64 hingga 70 tahun. Jika berhasil, model Pesanggrahan bakal menjadi contoh nasional bagaimana desa mampu membangun sistem perawatan lansia berbasis masyarakat tanpa harus bergantung penuh pada anggaran negara. (Yuyus)



.png)















