GOSIPGARUT.ID — Sejumlah petani di Kabupaten Garut saat ini tengah menjerit, musim panen raya ternyata tak seindah yang dibayangkan karena tanaman padi terkena penyakit blass yang mengakibatkan padi fuso.
Menurut Alit (48), warga Kampung Pangsor, Desa Cibunar, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut, panen raya tahun ini menjadi panen terburuk karena petani rugi akibat hasil panen anjlok drastis sehingga tidak bisa menutupi biaya garap.
“Contohnya dari 100 tumbak sawah, biasanya bisa menghasilkan gabah padi satu ton, sekarang hanya menghasilkan empat kwintal gabah,” kata dia, Rabu (27/5/2020).
Hal serupa juga diungkapkan Cecep (53). Selain padi yang fuso, harga gabah pun anjlok hanya sekitar Rp450 – Rp500 ribu per kwintal. Sedangkan harga pupuk Urea Rp175 ribu per kwintal dan pupuk poska harganya Rp300 ribu per kwintal.
“Petani sangat rugi karena hasil panen tidak bisa menutupi biaya garap lahan, biaya pupuk serta benih, harga gabah saat panen pun anjlok sangat murah,” ujarnya.
Kepala Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Cibatu, Ade Oleh, S.PKP didampingi Penyuluh Pertanian Desa Cibunar, Yusep Mustafa mengatakan,saat ini memang para petani mengalami gagal panen akibat serangan penyakit blass yang mengakibatkan tanaman padi fuso.
“Faktor cuaca yang lembab dan benih yang rentan terhadap penyakit, khususnya penyakit blass, dan pemupukan kandungan N yang cukup tinggi,” kata Ade.
Sementara Yusep Mustafa menambahkan, penanggulangan penyakit tanaman padi bisa dilakukan sejak dini di antaranya memilih varietas padi unggul yang tahan terhadap penyakit (blass dan keresek) serta pemupukan berimbang dan pengendalian hama penyakit terpadu (PHT). (Respati)


.png)










