GOSIPGARUT.ID — Ada yang berbeda dari Pondok Pesantren Tahfidz Qur’an Al-Yumna di Kampung Leuweunggaha, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut. Di tengah keterbatasan bantuan pemerintah, pesantren yang menaungi sekitar 100 santri itu membangun kemandirian ekonomi dengan memanfaatkan potensi pertanian di lingkungan sekitar.
Pesantren yang dikelola oleh 35 guru honorer tersebut mengembangkan kebun durian, alpukat, pepaya, singkong, dan sejumlah tanaman lainnya untuk menopang kebutuhan operasional. Hasil kebun dijual langsung kepada masyarakat, sementara sebagian diolah oleh para santriwati menjadi produk makanan, seperti bolu singkong khas Garut.
Hasil penjualan buah dan olahan tersebut dimanfaatkan untuk menambah biaya operasional pesantren, mulai dari kebutuhan makan santri, pembayaran listrik, hingga alat tulis kantor (ATK). Penjualan biasanya dilakukan saat pertemuan rutin orang tua santri dan kegiatan pengajian.
Pimpinan Pondok Pesantren Al-Yumna, Iip Abdul Malik, mengatakan pesantren yang dipimpinnya mengusung misi “Rabbani, Qurani, dan Mandiri”. Artinya, selain mencetak penghafal Al-Qur’an, pesantren juga membekali santri dengan keterampilan agar mampu mandiri secara ekonomi.
“Misi pondok pesantren kami adalah Rabbani, Qurani, dan Mandiri. Di sini tidak hanya diajarkan ilmu-ilmu agama Islam, tetapi juga dibekali keterampilan pertanian dan perekonomian. Tujuannya agar ketika santri kembali ke lingkungan masing-masing bisa memanfaatkan potensi yang dimilikinya sehingga mandiri,” ujar Iip saat ditemui, Senin (2/3/2026).
Menurut dia, sejak berdiri, pesantren menghadapi sejumlah kendala, terutama keterbatasan biaya operasional dan pembangunan ruang kelas, serta pembayaran insentif guru honorer. Dari total santri, sekitar 20 orang berasal dari keluarga tidak mampu dan yatim piatu.
Iip menyebutkan, para guru honorer rata-rata menerima insentif sebesar Rp150.000 yang dibayarkan setiap tiga bulan sekali. Untuk operasional, pesantren hanya mengandalkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tanpa bantuan tambahan lainnya.
“Untuk operasional kami hanya mengandalkan dana BOS dan belum ada bantuan lain. Karena itu, kami berupaya menutup kebutuhan dengan memanfaatkan potensi yang ada,” kata dia.
Sebagai bagian dari pengembangan kemandirian, Iip menggagas program bertajuk “Jamal Widuri”, singkatan dari Jajan Sambil Beramal di Wisata Kebun Durian. Melalui program ini, pengunjung dapat menikmati durian hasil kebun pesantren sekaligus berdonasi untuk mendukung pendidikan para santri.
Ia berharap program tersebut tidak hanya menarik minat masyarakat untuk menikmati durian, tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap pendidikan santri.
“Mudah-mudahan dengan Jamal Widuri ini semakin banyak orang yang datang, bukan hanya untuk menikmati durian, tetapi juga beramal bagi santri yang sedang menimba ilmu di sini,” ujar Iip. (Ai Karnengsih)



.png)






















