Berita

Cerita Ketua Petani Nasdem Garut Soal “Petani Buku” dan Perjudian Petani

×

Cerita Ketua Petani Nasdem Garut Soal “Petani Buku” dan Perjudian Petani

Sebarkan artikel ini
Ajah Sutisna Ketua Petani Nasdem Kabupaten Garut.

GOSIPGARUT.ID — Ajah Sutisna Ketua Petani Nasdem Kabupaten Garut yang lebih dikenal dengan nama H Awang di kalangan petani holtikultura Garut, punya cerita sendiri soal program-program pertanian yang digulirkan pemerintah. Dari mulai cerita “Petani Buku” hingga perjudian petani tiap kali bertani.

Cerita soal “Petani Buku”, menurut H Awang adalah cerita soal bagaimana orang-orang yang hanya bertani di atas kertas demi mendapatkan bantuan pupuk bersubsidi yang kemudian dijual kepada petani yang tidak tercatat sebagai penerima manfaat karena namanya tidak tercatat dalam kelompok tani yang didaftarkan ke pemerintah.

“Mereka punya akses dan faham bagaimana program ini dijalankan, jadi bisa memenuhi syarat administrasinya,” jelas Awang saat ditemui di kebun tomat miliknya di Desa Mekargalih, Kecamatan Tarogong Kidul, Sabtu (28/11/2025) akhir pekan lalu.

Baca Juga:   Eks Aktivis Garut: Pembentukan Kabupaten Limbangan dengan Perda, Keliru!

Karena faham betul bagaimana pupuk bersubsidi ini disalurkan dan syarat-syarat yang harus dipenuhi para penerimanya, “Petani Buku” ini dengan mudah memenuhi semua persyaratannya meski kebanyakan tidak memiliki lahan pertanian, atau bahkan tidak pernah bertani sama sekali.

“Susah membuktikannya memang, karena syarat-syaratnya secara tertulis dipenuhi, pupuknya juga disalurkan ke petani, tapi yang tidak terdaftar sebagai penerima,” katanya.

Awang yang telah malang melintang dalam dunia pertanian di Garut mengungkapkan, praktek “Petani Buku” banyak ditemukan di daerah karena para petani kebanyakan tidak memiliki akses, tidak memiliki pengetahuan soal persyaratan dan cara mendapatkan bantuan hingga ruang ini dimanfaatkan oleh “Petani Buku” yang lebih terdidik dan memiliki akses luas.

Baca Juga:   Sepekan Pascalebaran, Harga Kepokmas di Garut Masih Tinggi

“Ini sebagai evaluasi saja buat program pupuk bersubsidi, programnya bagus, tapi harus bisa dipastikan tepat sasaran, harus ada cek lapangan langsung pemanfaatannya,” katanya.

Masalah tersebut, menurut Awang dihadapi petani saat akan menanam dan perawatan tanaman yang membuat biaya produksi tinggi karena tidak bisa menerima bantuan pupuk bersubsidi. Masalah lain yang dihadapi petani adalah soal harga jual hasil tani terutama tanaman holtikultura yang tidak pasti dan diatur oleh para bandar besar.

“Kondisi ini yang membuat bertani holtikultura sama halnya berjudi, kalau lagi untung pas panen harga bagus, kalau tidak beruntung pas panen harga jatuh sampai biaya tanam saja tidak tertutup,” katanya.

Meski harus berjudi tiap kali bertani, menurut Awang, para petani tidak bisa menghindar karena untuk beralih profesi dirasa sulit. Makanya, apapun kondisinya para petani tetap bertahan sambil berharap keberuntungan.

Baca Juga:   Lahan Pertanian di Cilawu Rusak Akibat Saluran Irigasi Tertimpa Longsor

“Ini evaluasi buat pemerintah juga, bagaiman harga jual hasil tani bisa menguntungkan petani, jangan sampai seperti berjudi. Mau sampai kapan nasib petani seperti ini,” kata Awang.

Awang menegaskan, sebagai anak petani yang saat ini jadi petani, salahsatu cita-citanya hanya ingin mengangkat harkat derajat petani dengan mencerdaskan petani agar tidak lagi jadi korban dan objek kebijakan pemerintah. “Kebijakan pemerintah banyak sudah berpihak pada petani, tapi masih sulit diakses petani asli, jadi banyaknya dimanfaatkan petani buku,” katanya. (Ary)

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *