GOSIPGARUT.ID — Di tengah derasnya arus modernisasi, langkah kecil bisa menjadi penanda besar bagi keberlanjutan budaya. Hal itu tergambar dalam peluncuran buku Festival Nyaneut karya Janur M Bagus, jurnalis sekaligus pegiat budaya di Dewan Kebudayaan Kabupaten Garut (DKKG).
Buku ini mendapat apresiasi tinggi dari Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, yang menyebut karya tersebut sebagai “minuman hangat bagi jiwa literasi dan budaya Garut.”
Menurut Syakur, kehadiran Festival Nyaneut bukan sekadar menambah koleksi buku lokal, tapi menjadi momentum penting untuk menegaskan jati diri masyarakat Sunda yang lekat dengan nilai-nilai kearifan lokal.
“Saya menyambut baik dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada penulis. Festival Nyaneut adalah bagian dari khazanah budaya kita yang layak terus dirawat. Dengan adanya buku ini, generasi muda akan lebih mudah mengenal dan mencintai tradisi leluhur,” ujarnya.
Festival Nyaneut sendiri dikenal sebagai tradisi khas Garut yang mengajak masyarakat berkumpul, berdialog, dan menikmati suasana kebersamaan sambil menyeruput teh atau kopi. Namun, dalam pandangan Bupati, Nyaneut lebih dari sekadar ritual minum — ia adalah simbol kesederhanaan dan ruang refleksi sosial yang semakin langka di era digital.
“Kang Janur dalam bukunya menguraikan perjalanan festival ini, dari gerakan komunitas hingga menjadi agenda kebudayaan yang melibatkan berbagai kalangan,” ungkap Syakur.
“Tradisi seperti Nyaneut bukan sekadar seremonial, tapi ruang untuk menyatukan gagasan, mempererat silaturahmi, dan membangun karakter masyarakat,” tambahnya.
Buku Festival Nyaneut dianggap hadir pada waktu yang tepat, ketika masyarakat mulai mencari kembali akar kebudayaan di tengah derasnya modernitas. Bupati Syakur menegaskan, Pemkab Garut siap mendukung karya literasi dan upaya pelestarian budaya lokal agar tetap relevan di masa kini.
“Kami ingin literasi menjadi bagian dari gerakan kebudayaan. Buku ini bisa jadi referensi akademis sekaligus inspirasi praktis bagi siapa pun yang ingin menghidupkan tradisi,” tandasnya.
Sementara itu, Janur M Bagus menyebut penulisan buku ini sebagai bentuk tanggung jawab moral terhadap tanah kelahirannya. “Saya ingin menghadirkan catatan sejarah, makna, dan semangat kebersamaan dari Festival Nyaneut, agar bisa diwariskan lintas generasi,” kata dia.
Lebih dari sekadar apresiasi, dukungan Bupati terhadap karya ini menegaskan arah baru pembangunan kebudayaan Garut — bahwa menjaga tradisi bukan berarti menolak kemajuan, melainkan menemukan harmoni di antara keduanya.
Dengan demikian, Festival Nyaneut bukan hanya cerita tentang secangkir teh dan percakapan hangat, melainkan simbol bagaimana literasi bisa menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan budaya Sunda. ***



.png)











