GOSIPGARUT.ID — Polemik kematian tragis seorang siswa SMA Negeri 6 Garut akhirnya menemukan titik terang. Setelah sebulan lebih menjadi perbincangan publik, Dinas Pendidikan Jawa Barat memastikan tidak ada kelalaian dari pihak sekolah dalam kasus yang sempat dikaitkan dengan dugaan perundungan itu.
“Hasil investigasi sudah final. Tidak ada unsur kelalaian dari sekolah,” kata Kepala KCD Pendidikan Jabar Wilayah XI Garut, Aang Karyana kepada wartawan, Minggu, 24 Agustus 2025.
Pernyataan itu datang setelah tim gabungan pemerintah provinsi, Kementerian, hingga Badan Kepegawaian Daerah menuntaskan pemeriksaan. Proses investigasi dilakukan terbuka, bahkan hasilnya disampaikan langsung Gubernur Jawa Barat lewat kanal Youtube resminya.
Dugaan Bullying Tak Terbukti
Kasus ini mencuat setelah siswa tersebut ditemukan meninggal di rumahnya, 14 Juli 2025. Isu yang beredar di media sosial menuding korban mengalami perundungan di sekolah. Desakan publik pun memaksa pemerintah bergerak cepat, bahkan menonaktifkan kepala sekolah demi kelancaran pemeriksaan.
Namun, investigasi menyimpulkan hal berbeda. “Tidak ada bukti bullying oleh pihak sekolah,” kata Aang. Faktor psikologis diduga menjadi pemicu keputusan fatal korban.
Meski kesimpulan investigasi meringankan pihak sekolah, peristiwa ini menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan. Dinas Pendidikan Jabar menekankan perlunya peran aktif guru wali kelas dan bimbingan konseling.
“Guru harus lebih peka. Jika ada siswa yang menunjukkan perubahan perilaku, segera ajak komunikasi, libatkan orang tua,” ujar Aang.
Kini, aktivitas di SMA Negeri 6 Garut berjalan normal. Kepala sekolah yang sempat dinonaktifkan kembali menjabat. Namun, pertanyaan besar tetap menggantung: seberapa siap sekolah menghadapi persoalan mental generasi muda?
Kasus ini menyingkap realitas lain: pendidikan Indonesia masih abai pada kesehatan mental siswa. Di tengah tekanan akademik, ekspektasi orang tua, dan terpaan media sosial, banyak remaja merasa terjebak dalam ruang sunyi. Sayangnya, sistem pendidikan baru bereaksi setelah tragedi terjadi.
“Ini pelajaran bagi semua sekolah,” ucap Aang. Sebuah pernyataan sederhana, tapi sarat makna: mencegah lebih baik daripada mengurai duka. ***



.png)







