GOSIPGARUT.ID — Jarak 25 kilometer mungkin tak seberapa di peta. Tapi bagi puluhan Aparatur Sipil Negara (ASN) asal Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, itu berarti menempuh perjalanan 50 kilometer pulang-pergi setiap hari demi bekerja di kecamatan tetangga: Talegong.
Fenomena ini bukan hal baru. Menurut sejumlah sumber, arus ASN Cisewu ke Talegong sudah terjadi sejak 26 Desember 1983—hari ketika Talegong resmi berpisah dari Cisewu dan berdiri sebagai kecamatan sendiri. “Dulu hampir semua pegawai Dinas Pertanian Talegong itu orang Cisewu,” kata seorang mantan pegawai yang enggan disebutkan namanya.
Tak hanya dinas pertanian, Kepala Puskesmas Talegong pun selama bertahun-tahun dijabat oleh warga Cisewu. Nama-nama seperti Atep Cahya dan Wiati Kartini masih diingat warga. Baru beberapa tahun terakhir pucuk pimpinan puskesmas dipegang oleh warga lokal.
Jejak serupa ada di Dinas Pendidikan. Agus Rajab, warga Cisewu, pernah memimpin Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Pendidikan Talegong. Bahkan posisi Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) dan Sekretaris Kecamatan—dulu Dede Sukayat, kini Wiati Kartini—juga diisi ASN Cisewu.
Camat Talegong pun tak luput. Caca Riva’i, pria Cisewu yang menikahi perempuan Talegong, pernah menjabat kursi tertinggi itu.
Kenapa dominasi ini bertahan puluhan tahun? Sumber-sumber menyebut alasannya berlapis: kedekatan geografis, keterbatasan formasi pegawai lokal, kebijakan mutasi, serta jejak sejarah administratif ketika Talegong masih “anak” Cisewu. Relasi personal antar pegawai juga ikut memainkan peran.
“Kalau jarak dekat, kenapa tidak? Yang penting kinerja,” kata seorang ASN Cisewu yang kini mengabdi di Talegong.
Di tengah derasnya wacana pemerataan penempatan pegawai, kisah ASN Cisewu di Talegong menjadi catatan unik tentang bagaimana sejarah, geografi, dan jejaring sosial bisa membentuk wajah birokrasi di sebuah kecamatan. ***



.png)







