Berita

Populasi LGBT di Garut Meningkat, Pemicunya Kesalahan Pola Asuh dalam Keluarga

×

Populasi LGBT di Garut Meningkat, Pemicunya Kesalahan Pola Asuh dalam Keluarga

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI -- Populasi LGBT.

GOSIPGARUT.ID — Meningkatnya populasi LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) di Kabupaten Garut mengundang keprihatinan sejumlah pihak. Berdasarkan temuan AUI (Aliansi Umat Islam) Garut saat audensi dengan Komisi IV DPRD Kabupaten Garut, jumlah LGBT itu mencapai 3.000 orang.

Mirisnya lagi, kelompok LGBT di kabupaten dengan julukan Swiss Van Java itu sudah tidak malu memproklamirkan diri secara terang-terangan.

Menurut Wakil Ketua 2 Bidang Tarbiyah PW Persistri Jawa Barat, Dra. Nurlela saat dimintai komentarnya menjelaskan faktor utama yang memicu muncul dan meningkatnya populasi LGBT adalah kelemahan dan kesalahan pola asuh.

Baca Juga:   Hasil Mapping BNN, Tiga Desa di Perkotaan Garut Rawan Peredaran Narkoba

“Kondisi ini sungguh sangat memprihatinkan, faktor utama penyebabnya adalah kelemahan dan kesalahan pola asuh. Setiap anak terlahir dengan fitrah yang suci. Menjadi LGBT itu bukan ujug-ujug, tapi membutuhkan proses waktu panjang,” jelas dia, Kamis (15/12/2022).

Nurlela yang juga psikolog tersebut menjelaskan, keluarga sebaiknya berperan menjaga dan menumbuhkan fitrah, namun karena pola asuh yang salah kaprah jadilah berbagai kelemahan jiwa, karakter yang berimbas pada kecenderungan LGBT.

Baca Juga:   Bulan Syawal dan Kearifan Lokal: 5 Tips Mengadakan Halalbihalal yang Tak Terlupakan

Segala kekacauan itu sebagian besar berasal dari lemahnya rumah. Karenanya untuk pencegahan maupun therapy harus kembali ke rumah.

“Figur sentral di rumah adalah orangtua harus menjalankan fungsi sebagai orangtua juga fungsi keluarga dengan benar. Anak diasuh dengan batin, dengan hati, kasih sayang yang tulus,” papar Nurlela.

Menurut dia, anak harus dikayakan dengan nilai-nilai, dengan kekuatan jiwa melalui peran ayah. Ayah harus turut memainkan peran merangkul anak, mendengar, memberikan pengalaman yang membekas di hati anak. Memberikan edukasi tentang isu-isu kehidupan.

Baca Juga:   Di Cisewu Garut, Hanya Desa Girimukti yang Sudah Bebas ODF

Bagi anak yang sudah terlanjur LGBT, Nurlela menyarankan jangan disudutkan, sebaiknya diterima dengan tulus ikhlas, diajak ngobrol dari hati ke hati, di-aware– kan bahwa dia sedang sakit, didorong untuk tidak malu therafy hingga sembuh total. (Ai Karnengsih)

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *