Kesehatan

Tahun 2020 Kasus Stunting dan AKI-AKB di Kecamatan Cisewu Menurun

×

Tahun 2020 Kasus Stunting dan AKI-AKB di Kecamatan Cisewu Menurun

Sebarkan artikel ini
Forkopimcam, para kepala desa, dan jajaran Puskesmas Cisewu, setelah Lokakarya Mini yang membahas tentang stunting, AKI-AKB di Kecamatan Cisewu. (Foto: Istimewa)

GOSIPGARUT.ID — Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, pernah diterpa berita bohong (hoaks) yang menyatakan bahwa kasus stunting, angka kematian ibu (AKI), dan angka kematian bayi (AKB) cukup tinggi. Padahal faktanya, tren pergerakan ketiga kasus tersebut justru menurun di tahun 2020 ini.

Terungkap dalam Lokakarya Mini yang digelar UPT Puskesmas Cisewu sebagai sarana evaluasi terhadap upaya penanggulangan kasus stunting dan AKI-AKB di Kecamatan Cisewu, Kamis (10/9/2020), penurunan ketiga kasus tersebut cukup signifikan. Ambil contoh pada kasus stunting, di mana pada tahun 2019 berjumlah 74 orang dan di tahun 2020 turun drastis menjadi 45 orang.

“Sementara jumlah kematian ibu dari bulan Januari sampai Agustus 2020 sebanyak 2 orang dengan faktor penyebab adalah hepatitis A dan eklamsi. Sedangkan jumah kematian bayi (Januari-Agustus 2020), sebanyak empat orang dengan faktor penyebab tiga orang karena berat bayi lahir rendah (BBLR), dan satu orang karena asfiksia,” jelas Kepala Puskesmas Cisewu, Atep Cahya, S.Kep.

Baca Juga:   Garut Dapatkan Pasokan 4000 Vaksin Dosis Ketiga untuk Tenaga Kesehatan

Saat berbicara pada Lokakarya Mini yang digelar di Gedung Serbaguna Desa Cisewu itu, Atep menjelaskan, bahwa AKI adalah kematian selama kehamilan dalam waktu 42 hari setelah berakhirnya kehamilan. Penyebab kematiannya yaitu oleh kehamilan itu sendiri atau penanganannya, bukan disebabkan oleh kecelakaan atau cedera.

“Yang dimaksud AKB adalah kematian seorang bayi yang dilahirkan hidup dalam 0-29 hari setelah kelahiran. Lahir mati adalah keadaan bila kematian bayi terjadi sebelum lahir tetapi setelah kehamilan 20 minggu atau lebih,” ujar dia.

Baca Juga:   32 Ribu Balita di Garut Alami Gizi Buruk, Terbanyak di Garut Kota, Limbangan, dan Wanaraja

Atep menambahkan, penyebab utama kematian bayi adalah asfiksia kelahiran, BBLR, tetanaus neonatorum, dan trauma kelahiran, serta akibat kelainan kongenital yang sebenarnya dapat dicegah melalui pemeliharaan ibu selama kehamilan, penolong persalinan yang aman dan bersih.

“Di Kecamatan Cisewu juga terjadi tren penurunan pada kasus gizi buruk dan gizi kurang. Untuk kedua kasus ini, jika pada tahun 2019 terdapat satu kasus gizi buruk, pada tahun 2020 terdapat nol kasus. Sedangkan untuk kasus gizi kurang, kalau pada 2019 terdapat 29 orang, di 2020 turun menjadi 12 orang,” paparnya.

Terkait dengan penyelenggaraan Lokakarya Mini itu, Atep menjelaskan diselenggarakan pada triwulan ketiga tahun 2020 dengan melibatkan sejumlah pihak lintas sektoral dan dihadiri Camat dan unsur Forum Kordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Cisewu.

Baca Juga:   Balon Petahana Optimis Menangkan Pilihan Kepala Desa Panggalih

“Lokakarya ini sebagai sarana evaluasi kegiatan Puskesmas dari Januari sampai Agustus 2020, evaluasi hasil kesepakatan lokakarya mini triwulan kedua tahun 2020, dan untuk merencanakan kegiatan di triwulan keempat,” kata Atep.

Ia menjelaskan, kegiatan pada triwulan keempat itu akan fokus kepada masalah AKI dan AKB, stunting, persalinan di fasilitas kesehatan, dan sosialisasi masa AKB (adaptasi kebiasaan baru) pada masa pandemi Covid-19. (TSN)

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *