Kesehatan

Tiap Bulan di Garut Ada 43 Bayi yang Baru Lahir Meninggal Dunia

×

Tiap Bulan di Garut Ada 43 Bayi yang Baru Lahir Meninggal Dunia

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI -- Kematian bayi.

GOSIPGARUT.ID — Kasus kematian bayi baru lahir dan kematian ibu melahirkan di Kabupaten Garut hingga kini masih menjadi persoalan krusial. Dalam dua tahun terakhir, di Kabupaten Garut tercatat kematian bayi mencapai rata-rata 43 jiwa per bulan atau 10-11 jiwa per pekan. Penyebabnya didominasi faktor berat badan lahir rendah (BBLR).

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Garut Tri Cahyo Nugroho mengatakan, meski jumlah kasus kematian bayi pada 2019 mengalami penurunan dibandingkan 2018 namun penyebab kematian akibat BBLR justru melonjak dari semula 89 kasus menjadi 104 kasus.

“Selain BBLR, asfiksia atau kesulitan bernapas secara spontan dan teratur juga menjadi penyebab dominan dalam tingginya kasus kematian bayi di Garut,” kata Tri Cahyo, Minggu (26/7/2020).

Baca Juga:   Jumlah Tempat Tidur di Fasilitas Kesehatan Garut Disebut Masih Jauh dari Ideal

Berdasarkan data Dinkes Kabupaten Garut, jumlah kematian bayi di Garut pada 2018 mencapai 271 kasus dengan penyebab BBLR sebanyak 89 kasus, lain-lain 68 kasus, asfiksia 66 kasus, kelainan bawaan 15 kasus, tetanus neonatorum (TN) 3 kasus, diare 2 kasus, infeksi 2 kasus, pneumonia atau radang paru 2 kasus, dan kelainan saraf 1 kasus.

Sedangkan, pada 2019 jumlah kematian bayi berkurang menjadi sebanyak 248 kasus dengan penyebab BBLR mencapai 104 kasus, disusul asfiksia 61 kasus, lain-lain 54 kasus, kelainan bawaan 19 kasus, sepsis atau infeksi darah 4 kasus, pneumonia 3 kasus, kelainan saluran cerna 2 kasus, dan diare 1 kasus.

Berdasarkan tempatnya, terbanyak bayi meninggal di rumah sakit mencapai 121 kasus, disusul di rumah 76 kasus, puskesmas 38 kasus, dan bidan/polindes 13 kasus.

Baca Juga:   Ayah Kandung di Garut Tega Rudapaksa Anak Selama Setahun, Mengaku Kesepian Usai Istri Meninggal

Jumlah kematian bayi di Garut selama 2019 tersebut jika dihitung per seribu kelahiran hidup maka angka kematian bayi (AKB)-nya mencapai 14,80%.

Selain banyaknya kematian, persoalan lain tak bisa dilepaskan menyangkut kesehatan bayi dan balita di Garut yakni masih banyaknya balita bergizi buruk, dan stunting/kerdil.

Berdasarkan data bulanan laporan gizi dalam rentang Januari-Juni 2020, di Garut terdapat sebanyak 52 balita bergizi buruk, atau 0,02% dari 215.343 balita.

Jumlah balita mengalami stunting di Garut berdasarkan hasil bulan penimbangan balita (BPB) bulan Februari 2020, hasil entri ke aplikasi E=PPGM (Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat) tertanggal 22 Juli 2020, mencapai 14.902 jiwa.

Selain itu, kasus kematian ibu melahirkan yang masih tinggi mencapai 45 orang pada 2019, atau sedikit menurun dibandingkan pada 2018 yang mencapai 55 orang.

Baca Juga:   Garut Siapkan Penguatan Layanan Paru, Bupati Syakur Sambut Rencana Rawat Inap Rotinsulu

Perdarahan dan eklamsia (komplikasi kelainan masa kehamilan, saat persalinan, setelah persalinan ditandai tekanan darah tinggi dan kejang) menjadi penyebab dominan terjadinya kasus kematian ibu melahirkan di Garut tersebut. Penyebab berikutnya yakni sakit jantung, infeksi, dan lainnya.

Kebanyakan kematian mereka terjadi saat periode nifas/paskapersalinan (23 kasus), disusul saat persalinan (18 kasus), dan masa kehamilan (4 kasus).

Seperti halnya kematian bayi, mereka juga kebanyakan meninggal di rumah sakit (40 kasus), disusul di rumah (2 kasus), di perjalanan (2 kasus), dan di puskesmas (1 kasus). (IK/Zainulmukhtar)

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *