Berita

Pemudik yang Datang ke Garut akan Disaring Ketat di Delapan Titik Pintu Masuk

×

Pemudik yang Datang ke Garut akan Disaring Ketat di Delapan Titik Pintu Masuk

Sebarkan artikel ini
Wakil Bupati Helmi Budimam dalam konferensi pers di Garut Command Center, Kompleks Pendopo, Senin (16/03/2020). (Foto: Yan AS)

GOSIPGARUT.ID — Tak dilarangnya pemudik untuk pulang kampung ditanggapi serius Pemkab Garut. Kedatangan pemudik akan diawasi ketat agar tak menyebarkan virus corona.

Wakil Bupati Garut, Helmi Budiman, menyatakan, salah satu upaya yang dilakukan dengan melakukan penyaringan di delapan titik pintu masuk ke Garut. Mereka yang dinyatakan sehat, akan ditekankan agar melapor ke pemerintahan setempat.

Kedelapan titik itu di antaranya Kadungora, Cijapati, Kamojang, Limbangan, Malangbong, Talegong, Cilawu, dan Cibiuk.

“Kalau sehat tetap harus lapor. Mulai dari ketua RT, RW, kades, hingga camat di lingkungannya masing-masing,” ujar Helmi, Jumat (3/4/2020).

Baca Juga:   Garut Pecahkan Rekor MURI untuk Sajian Baso Aci Terbanyak, Bupati Pastikan Makanan Halal

Ia pun mengingatkan agar ketua RT, RW, kades, dan camat harus mengetahui jika ada warga pendatang dari luar daerah ke wilayahnya. Data pendatang yang masuk ke wilayahnya, harus dilaporkan camat ke Puskesmas setempat.

“Tujuannya, agar warga yang datang dari luar daerah mendapatkan pengawasan dari petugas kesehatan. Selama ini penyebaran Covid-19, termasuk ODP banyak yang berasal dari kota-kota besar terutama Jakarta,” ujar Helmi.

Para pendatang itu juga harus menjalani masa isolasi di rumahnya selama 14 hari. Hal ini harus dilakukan karena mereka secara otomatis statusnya masuk sebagai orang dalam pengawasan (ODP).

Baca Juga:   Banyak Pemudik ke Garut yang Sembunyi-sembunyi dari Pemeriksaan Petugas

Helmi menambahkan, tenaga medis Puskesmas di Garut terpaksa menggunakan jas hujan sebagai alat pelindung diri (APD). Cara itu dilakukan karena minimnya APD.

Selain memakai jas hujan, para tenaga medis juga memodifikasi alat pelindung wajah. Tak adanya APD, membuat tenaga medis mencari solusi lain. “Harus pakai APD lokal akhirnya. Terbuat dari plastik atau jas hujan karena APD tidak ada,” ujarnya.

Kekurangan APD, diakui Helmi memang tengah dialami. Pihaknya kesulitan untuk mencari APD bagi para tenaga medis. “APD yang sesuai standar itu sulit didapat. Bukannya tidak ada anggaran untuk beli,” katanya.

Baca Juga:   Fitur “Tagih Uang” Melengkapi Fitur Saku Bareng Raya App, Ajak Komunitas Menabung Hingga 300 Anggota

Helmi berharap dalam satu atau dua hari ini, APD bisa segera didapatkan untuk petugas medis di rumah sakit maupun Puskesmas. Pihaknya sudah memesan 1000 APD untuk penanganan Covid-19.

“Saya harap paling lama minggu depan APD sudah ada. Kami pesan 1000 APD, tapi sepertinya akan kurang kalau dibagi ke 62 Puskesmas,” katanya. (Trbn)

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *