Peristiwa

Jelang Musim Hujan, di Tiga Kecamatan Garut Terjadi Pergerakan Tanah

×

Jelang Musim Hujan, di Tiga Kecamatan Garut Terjadi Pergerakan Tanah

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI -- Pergerakan tanah.

GOSIPGARUT.ID — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut mencatat sebanyak tiga kecamatan telah melaporkan kejadian pergerakan tanah jelang tibanya musim hujan. Ketiga kecamatan itu adalah, Cikajang, Malangbong, dan Cigedug.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Garut, Tubagus Agus Sofyang mengatakan, masing-masing kecamatan yang telah melaporkan itu terdapat dua titik pergerakan tanah. Artinya, saat ini sudah ada enam titik pergerakan tanah di Kabupaten Garut.

“Saya sudah mengimbau ke seluruh kecamatan di Kabupaten Garut untuk mulai siaga dan waspada menjelang musim hujan. Kalau ada pergerakan tanah, langsung laporkan,” kata dia, Kamis (31/10/2019).

Agus mengakui, Kabupaten Garut merupakan salah satu wilayah rawan bencana pergerakan tanah. Menurut dia, hampir seluruh kecamatan di memiliki potensi untuk terjadi longsor. 
Namun, lanjut Agus, di masing-masing wilayah mimiliki tingkatan kerawanannya, mulai dari rendah, sedang hingga tinggi. Selama ini, wilayah masuk kategori rawan longsor tinggi berada di Kecamatan Samarang, Banjarwangi, dan wilayah selatan Garut. 

Baca Juga:   Aceng Fikri Menikah Lagi, Siapa Nama Mempelai Wanitanya?

Meski begitu, ia menambahkan, dengan adaya pergerakan tanah di Cikajang, Malangbong, dan Cigedug, wilayah rawan longor dengan kategori tinggi bertambah. “Di Malangbong, Cikajang, dan Cigedug, yang semula level menengah naik ke tinggi karena ada retakan tanah. Itu hasil kajian PVMBG,” kata dia.

Agus mengimbau, warga yang tinggal di wilayah berpotensi longor dengan tingkat kerawanan tinggi untuk selalu berhati-hati. Ketika terjadi gempa bumi atau hujan dengan intensitas tinggi lebih dari tiga jam, warga yang berada setidaknya 10 meter dari lokasi retakan tanah, diimbau untuk mengungsi.

Baca Juga:   Polisi Mencatat Ada Tiga Korban Akibat Robohnya Baliho Raksasa di Simpang Samsat

“Jangan ambil risiko. Tapi saya sudah perintahkan kecamatan juga memberikan imbaun secara spesifik. Tak perlu diimbau mengungsi kepada seluruh warga, cukup yang berpotensi tinggi. Takut nanti kalau satu desa masyarakatnya panik semua,” kata dia.

Agus mencontohkan, di Kampung Sukasari, Desa Mekarsari, Kecamatan Cikajang, terdapat ada enam rumah atau delapan kepala keluarga yang dekat dengan lokasi retakan. Seandainya ada gempa atau hujan intensitas tinggi selama satu jam, lanjut dia, harus langsung diungsikan.

Selain meminta warga lebih waspada, Agus juga telah menginstruksikan pemerintah desa mengajak warga bergotong royong menutup retakan tanah dengan lumpur. Menurut dia, itu merupakan salah satu antisipasi agar retakan tak cepat longsor.

Baca Juga:   PVMBG: Seluruh Kecamatan di Garut Memiliki Potensi Pergerakan Tanah

“Karena adanya retakan itu, ketika musim hujan air masuk tambah banyak. Jika ditutup lumpur, pergerakan tanah ketika hujan itu lebih bisa diperlambat,” kata dia.

Agus mengatakan, berdasarkan prakiraan Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), awal musim hujan di Kabupaten Garut terjadi sejak akhir Oktober. Hujan memang telah beberapa kali terjadi di Garut, tapi masih dalam intensitas ringan.

“Pokoknya warga, kalau musim hujan sudah masuk, kita tak boleh ambil risiko,” kata dia. (ROL/Fj)

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *