Berita

Sekolah Gunakan Kayu Albasiah dan Mahoni, Disdik Garut Minta Dibongkar Lagi

×

Sekolah Gunakan Kayu Albasiah dan Mahoni, Disdik Garut Minta Dibongkar Lagi

Sebarkan artikel ini
Seorang pekerja sedang diperintahkan untuk membongkar lagi kayu yang menyalahi spek dipasang pada plafon ruang kelas. (Foto: Istimewa)

GOSIPGARUT.ID — Sejumlah sekolah dasar (SD) di Kabupaten Garut yang mendapat proyek rehabilitasi ruang kelas dari dana alokasi khusus (DAK) pendidikan tahun 2019, ditemukan menggunakan material yang menyalahi spek. Seperti kayu albasiah dan mahoni berumur muda.

Oleh karena itu, pihak Dinas Pendidikan (Disdik) Garut yang menemukan penggunaan material di luar spek tersebut, meminta pihak sekolah membongkar lagi kayu-kayu yang sudah dipasang pada bagian atap ruang kelas.

“Kami mintakan pihak sekolah untuk membongkar lagi saat itu juga (saat melakukan operasi mendadak), dan menggantinya dengan kayu kelas sebagaimana spek. Kalau saja belum mendapatkan kayu dimaksud, kami mohon pengerjaan dihentikan dulu,” kata Kepala Seksi Sarana Bidang Sekolah Dasar Disdik Garut, Ma’mun Gunawan, Rabu (25/9/2019).

Baca Juga:   Libur Maulid Nabi: 15.465 Orang Gunakan Kereta Api, Stasiun Kertapati Paling Ramai

Ia menjelaskan, pihaknya menemukan sejumlah SD pemenang proyek DAK 2019 yang menggunakan kayu albasiah dan mahoni berumur muda itu, saat melakukan sidak ke sejumlah SD baru-baru ini. “Kami menemukan kayu albasiah dipakai plafon, dan pada atap digunakan kayu kelas yang dicampur dengan mahoni muda,” tandas Ma’mun.

Kasi Sarana Disdik Garut, Ma’mun Gunawan, tengah melaksanakan sidak. (Foto: Istimewa)

Menutut dia, demi menjaga kualitas bangunan, Disdik meminta pihak sekolah tidak nakal atau main-main dengan menggunakan material yang menyalahi spek. Karena dengan cara begitu, pihak sekolah yang akan rugi sendiri. “Kami tidak mengharapkan bangunan ambruk lagi gara-gara penggunaan material jelek,” ujarnya.

Baca Juga:   Polres Garut Bongkar Kebun Ganja di Rumah Warga Bungbulang, Pelaku Terancam 20 Tahun Bui

Ditanya sekolah mana saja yang menggunakan kayu di luar spek itu, Ma’mun enggan menyebutkan. Hanya ditandaskannya, sekolah-sekolah tersebut berada di wilayah Garut tengah dan selatan.

“Kadang masalahnya ada dari toko material juga. Pesan dan bayar kayu kelas dua, tapi yang datang kayu yang sudah dicampur. Jadi panitia P2S harus benar-benar mengontrol dan mensortir barang datang. Sebelum digunakan atau dipasang, pastikan dulu bahwa barang itu sesuai pesanan,” kata dia. ***

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *