oleh

Cerita Sang Penghitung Kendaraan Mudik di Jalur Limbangan Garut

GOSIPGARUT.ID — “Ayah tidur di mana?” tanya seorang anak kepada Asep Rahman melalui panggilan video. “Di pos, sayang. Besok pagi baru bisa pulang,” balas petugas UPTD Wilayah VII Dinas Perhubungan Garut itu. Percakapan berlangsung sekitar 10 menit dan mereka saling bertanya kabar.

Asep Rahman pada musim mudik kali ini kembali bertugas menghitung arus kendaraan yang melintasi jalur selatan. Dia sudah melakoni tugas ini sejak 2012 yang lalu. Baginya, ada kepuasan dan kebanggaan tersendiri bisa turut terlibat dalam musim mudik tiap tahun meski harus terpisah dari keluarga.

Tempat tinggal Asep berada di Desa Cibugel, Kecamatan Cibugel, Kabupaten Sumedang. Dari lokasi tempatnya bertugas, butuh waktu sekitar 45 menit dengan motor untuk sampai di rumah. “Kebetulan di antara pegawai yang lain, rumah saya yang paling jauh,” kata dia.

Asep sedang beruntung pada musim mudik tahun ini karena bisa malam takbiran di rumah. Namun jika malam takbiran di rumah, selepas shalat Ied ia harus segera kembali ke pos pemantauan Dishub Garut di Limbangan.

Beberapa tahun sebelumnya, Asep selalu menikmati malam takbiran di pos pengamanan sehingga tidak bisa menunaikan shalat Ied di rumah. Biasanya ia shalat Ied di Alun-Alun Limbangan. “Tetapi setelah shalat Ied, saya bisa menikmati hari raya bersama keluarga,” jelas dia.

Terkadang Asep menghitung arus kendaraan dengan perasaan sedih. Terutama saat dia menerima kabar dari orang rumah soal saudara yang sakit atau hal buruk lain yang terjadi. Dalam kondisi darurat ini, ia memutuskan untuk langsung pulang. Baginya yang terpenting adalah keluarga.

Baca Juga:   Jalur Rancabuaya -- Bandung Sering Longsor, Camat Cisewu Imbau Kewaspadaan

“Pernah juga saya waktu bertugas menghitung arus mudik itu, nenek istri saya meninggal. Maka saya izin dulu, saya tinggalkan pos. Tapi sebelumnya saya tanya dulu ke istri, perlu tidak saya pulang,” ujar dia.

Dalam mengemban tugas di momen mudik Lebaran, kesehatan sangatlah penting. Sedikit saja badan terasa tak enak, tugas terganggu. Asep pun menyadari, menghitung arus mudik menguji ketahanan tubuh. Ia harus menghadapi terik panas di siang hari hingga dinginnya angin malam yang menusuk.

Sekarang sedang masuk musim kering sehingga hawa Garut begitu dingin. “Terkadang banyak rekan-rekan yang sakit, yang kelelahan. Karena kita kerja dari H-8 sampai H+8 Lebaran. Siangnya kena panas, malamnya kena dingin,” imbuhnya.

Bahkan sebelum berbincang di malam hari, Asep sorenya terlebih dulu ke dokter untuk berobat. Sudah beberapa hari ia menderita radang tenggorokan sehingga perlu lebih dekat mendengar suaranya. “Kena debu kena panas mungkin ya, tapi itu risiko,” kata Asep.

Selama menjalani tugas menghitung arus kendaraan ini, Asep terus menjaga komunikasi dengan orang-orang di rumah yakni istri, anak, dan cucunya. Komunikasi terus dijaga sekadar untuk menanyakan bagaimana keadaan di rumah. Terlebih, karena kemarin dia sempat radang tenggorokan, sang istri pun berkali-kali menghubungi.

Baca Juga:   Pulang dari Pameungpeuk Garut, Mahasiswa Unpad Menghilang

“Terkadang cucu saya yang minta (video call), kalau saya enggak pulang, dia suka nanya, ‘kapan pulang’, ‘pulang ya’,” kata Asep meniru ucapan cucunya.

Asep Rahman tak sendiri menghitung arus kendaraan yang melintasi jalur selatan via Limbangan. Ada banyak rekannya yang mengemban tugas menghitung arus kendaraan pada musim mudik Lebaran 2019 ini. Dalam penghitungan arus mudik, ada dua regu yang disiapkan di wilayah Limbangan dengan membagi dua giliran atau shift sehari.

Giliran pertama yakni pagi dari pukul 08.00 sampai 16.00 dengan empat sampai lima petugas. Giliran kedua, dari pukul 16.00 sampai 08.00 pagi keesokannya dengan tujuh sampai delapan petugas. Hasil dari penghitungan arus mudik ini kemudian dimuat dalam catatan per dua jam sekali.

Malam itu, empat petugas mendapat gilirannya: Ujang Supriatna, Deden, Yosep, dan Asep Sumpena. Ada dua alat penghitung arus kendaraan di atas meja. Satu alat untuk menghitung arus dari barat ke timur, satu lagi dari timur ke barat. Yosep tampak menggunakan helm saat menekan tombol alat penghitung arus. “Biar hangat euy,” tuturnya.

Tangan Yosep tepat berada di atas tombol penghitung arus dari arah barat ke timur. Sedangkan Asep Sumpena, yang mengenakan kain buff di kepalanya, menghitung arus sebaliknya. Ujang dan Deden menunggu gilirannya menghitung. Jika dua jam terlewati, giliran Ujang dan Deden masuk menggantikan. Asep dan Yosep pun bisa beristirahat.

Baca Juga:   Lapan Bantah Dentuman Misterius di Garut, Cianjur, dan Sukabumi, Suara Peluncuran Roket

Ada teknik tersendiri dalam mencatat arus kendaraan dengan alat penghitung manual. Saat menekan alat tersebut, pandangan harus fokus pada kendaraan tetapi dalam jarak yang berjauhan. Misalnya, ketika kendaraan baru muncul dari kejauhan atau setelah melintas di hadapan mata, maka saat itulah waktu yang tepat untuk menekan.

“Karena kalau menghitungnya saat kendaraan berada tepat di hadapan kita, jadi gampang capek. Kitanya jadi enggak bisa bertahan lama. Jadi ya kayak menghitung bebek saja,” kata Yosep menjelaskan.

Karena itu juga, pos pemantauan Dishub Garut wilayah VII diatur pada posisi yang membuat petugas bisa memandang jalan secara luas. Jika dalam satu kali lintasan ada banyak kendaraan yang lewat, maka jari-jari tangan harus didekatkan pada tombol untuk mempermudah penghitungan.

“Kalau lagi one way kita pakai dua tangan. Jari-jari-jari ini harus siap di atas tombol. Kalau lagi enggak one way ya bisa pakai satu tangan saja,” tutur Yosep yang sedang menggunakan satu tangan saat menghitung arus kendaraan yang lewat.

Yosep mengatakan butuh konsentrasi untuk menghitung arus kendaraan tetapi juga mesti rileks. Agar rileks, Yosep dan kawan-kawannya menghitung arus sambil memakan cemilan yang tersedia. Diselimuti dinginnya malam, singkong rebus dan goreng yang hangat menjadi hidangan istimewa di hadapan mereka. (ROL/Gun)


Komentar

Berita Terkait