Berita

Ciburuy, “Kampung Albino” di Garut dengan Penduduknya Mirip Bule

×

Ciburuy, “Kampung Albino” di Garut dengan Penduduknya Mirip Bule

Sebarkan artikel ini
Anak "Kampung Albino" di Garut. (Foto: Istimewa)

GOSIPGARUT.ID — Apakah pernah bertemu dengan orang yang seluruh tubuhnya putih, bahkan bulu mata dan rambutnya juga memiliki warna serupa uban? Kondisi kelainan seperti ini membuat penderitanya memiliki kulit pucat yang disebut Albino atau albinisme. Kelainan ini sudah diteliti dan merupakan fenomena yang cukup langka. Herannya, di Indonesia ada sebuah desa bernama Ciburuy di Garut yang disebut sebagai ‘Kampung Albino’.

Dinamakan demikian karena memang sebagian penduduknya memiliki kelainan pada pigmen kulit sehingga ia berbeda dari kebanyakan orang. Keberadaan manusia Albino di Garut ini juga tidak lepas dari sejarah masa penjajahan Belanda tenyata. Untuk lebih lengkapnya, mari simak ulasan berikut!

Kampung Albino merupakan keturunan Belanda

Di Indonesia sendiri ada beberapa kampung yang dihuni oleh orang albino. Selain di Desa Mantar, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, sebagian penduduk albino juga mendiami Ciburuy, Garut. Kehadiran para penduduk yang berparas putih ini disebabkan oleh nenek moyang mereka yang merupakan keturunan Belanda.

Baca Juga:   Dukung Mobilitas Santri dan Pengurus Pondok Pesantren, KAI Daop 8 dan Yayasan Bumi Shalawat Progresif Sidoarjo Tandatangani Kerjasama

Menurut keterangan tokoh kampung yang ada, anak yang lahir albino sudah bukan hal yang aneh lagi, mengingat dulunya kampung ini memang pernah dihuni bule Belanda. Dengan itulah, anak albino seolah merupakan titisan yang akan terus berlanjut hingga anak cucu mereka nanti.

Tak semua penduduk berwajah layaknya bule

Sebelum melahirkan Jajang, Siti bahkan sudah mendapat tanda-tanda berupa bulan yang sangat terang cahayanya. Hal tersebutlah sepertinya yang membuat sang putra terlahir albino.

Sebelum dikenal sebagai Kampung Albino, Ciburuy sendiri diketahui merupakan kawasan sejarah kabuyutan yang menyimpan benda dan naskah kuno peninggalan orang terdahulu. Situs ini merupakan peninggalan Prabu Siliwangi yang kemudian diwariskan ke anaknya, Prabu Kian Santang.

Daerah yang luasnya kurang lebih 1 hektare ini kemudian didirikan tiga situs rumah untuk menyimpan barang-barang bersejarah peninggalan sang Prabu. Tercatat ada Bumi Padaleman (penyimpanan naskah kuno), Bumi Patamon (penyimpanan benda tajam), dan Leuit (lumbung) padi. Ketiganya dinilai warga sebagai tempat yang sakral dan berisi pusaka.

Terlarang dikunjungi saat hari Jum’at dan Sabtu

Setiap hari Rabu di Minggu ketiga bulan Muharram, akan ada upacara adat ‘Seba’ atau pencucian keris yang dilakukan oleh penduduk Ciburuy. Upacara tersebut sama layaknya tasyakuran untuk menghormati Prabu Siliwangi dan pemuka masyarakat sebagai sosok pemimpin yang berilmu.

Baca Juga:   511 Rumah Rusak Akibat Gempa Sesar Garsela di Garut Diusulkan Dapatkan Bantuan Perbaikan

Selain upacara adat tersebut, di kawasan Ciburuy juga diberlakukan larangan mengunjungi tempat tersebut pada hari Jum’at dan Sabtu. Hal tersebut sudah dilakukan masyarakat selama turun temurun.

Keberadaan Kampung Ciburuy yang dihuni oleh penduduk albino dan kaya peninggalan sejarah ini masih jarang diketahui oleh masyarakat Garut. Dari sekian kampung yang ada di Indonesia, Kampung Albino Garut adalah salah satu situs yang harus dijaga budayanya, karena memang peninggalan tersebut sudah ada sejak zaman dahulu, warisan dari Raden Kian Santang untuk para warga Ciburuy. (Bmbt/Gun)

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *