oleh

Piala Sudirman 2019, Kekuatan Tim Indonesia yang Masih Belum Merata

GOSIPGARUT.ID — Pebulutangkis Indonesia selalu mengalami masalah ketika harus tampil beregu. Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) menilai, kekuatan yang tidak merata dan inkonsistensi menjadi masalah utama.

Tim bulutangkis Indonesia sudah sangat lama tidak menjaurai turnamen beregu. Terakhir kali juara di ajang Thomas Cup pada tahun 2002. Sementara di turnamen Uber Cup, Indonesia terakhir kali juara pada tahun 1996.

Di Piala Sudirman, tim garuda bahkan hanya menjadi yang terbaik saat turnamen itu pertama kali diselenggarakan di Jakarta, yakni pada tahun 1989. Tahun ini, Indonesia kembali disingkirkan oleh Jepang di babak semi final dengan skor 1-3.

Manajer tim Indonesia Susy Susanti mengaku kecewa dan harus mengakui keunggulan Jepang. Kunci keberhasilan Jepang, kata Susy, adalah kemampuan para atletnya yang merata dan konsisten.

Baca Juga:   Pelatih Timnas U-22 Ingin Membawa Piala AFF ke Indonesia

Susy mengungkapkan, skenario yang diharapkan dalam pertandingan pada Sabtu (25/5/2019) di Guangxi Sports Center Gymnasium itu, Indonesia meraih poin pertama dari pemain andalan Kevin Sandjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon dan tunggal putra Anthony Sinisuka Ginting.

“Tunggal putri dan ganda putri secara head to head dan peluang, memang lebih kecil dibanding tiga nomor lain,” kata Susy, dilansir dari laman resmi PBSI.

Setelah itu, penentuan akan dimainkan oleh ganda campuran yang juga mulai membaik penampilannya, Praveen Jordan/Melati Oktaviani. Sayangnya, Ginting gagal membendung permainan tangguh yang diperagakan oleh Kento Momota. Begitu pun di sektor tunggal dan ganda putri, takluk dari wakil Jepang dua gim langsung.

“Secara keseluruhan memang kami harus akui keunggulan Jepang yang kuat. Atlet-atlet sudah berusaha keras. Di pertandingan pertama kami bisa kuasai, tapi di tiga pertandingan berikutnya memang harus diakui lawan lebih unggul,” ujar Susy.

Baca Juga:   Laga Persib Kontra Arema FC Diundur

Susy menyoroti sektor tunggal yang tidak mampu konsisten, padahal memiliki catatan apik di beberapa turnamen. Ginting sempat memberi perlawanan sengit terhadap Momota, tapi gagal di poin-poin kritis dan akhirnya harus takluk dengan skor 17-21, 19-21.

“Konsistensinya yang harus ditingkatkan lagi. Secara peringkat kan mereka sudah ada di sana, cuma konsistennya waktu main itu. Bisa main bagus, tahu-tahu nggak bisa stabil, baik Anthony maupun Jonatan (Christie),” kata Susy.

Susy menambahkan, beberapa pemain tunggal putra, baik itu Momota, Viktor Axelsen, Chen Long cenderung lebih mampu mempertahankan penampilan mereka di setiap pertandingan.

“Seorang pemain bisa dilihat matangnya dari situ. Kalau pun kalah, sama pemain yang selevel. Paling enggak lima besar dunia,” ujar Susy.

Baca Juga:   Duh... Persib Tersingkir dari Piala Indonesia Akibat kalah Gol Tandang

Selain di sektor tunggal putra, Susy juga memastikan PBSI masih akan terus mengevaluasi para pemain putrinya. Gregoria Mariska Tunjung memiliki teknik yang baik, tapi masih kesulitan jika diajak reli. Sementara Greysia Polii/Apriyani Rahayu perlu meningkatkan power dan teknik bertahan dari serangan lawan.

Tim Indonesia mendapat medali perunggu pada Piala Sudirman 2019 bersama tim Thailand. Sedangkan Jepang dan Tiongkok tengah memperebutkan Piala Sudirman di laga final yang saat ini tengah berlangsung di Guangxi Sports Center Gymnasium.

Tiongkok tercatat sebagai tim yang paling banyak menjuarai Piala Sudirman, yakni 10 kali. Sementara Jepang belum pernah menjadi juara pada turnamen dua tahunan ini. (LJ/FJ)


Komentar