GOSIPGARUT.ID — Pemerintah Kabupaten Garut memastikan pengalokasian anggaran untuk Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Garut berbalik ke skema awal. Keputusan ini diambil setelah tambahan dana Transfer ke Daerah (TKD) yang sebelumnya diandalkan untuk memperkuat kas olahraga daerah dipastikan gagal terealisasi.
Langkah mundur ini memaksa pemerintah daerah mengetatkan ikat pinggang di tengah ruang fiskal yang terus menyempit. Impian peningkatan hibah dan sokongan dana segar bagi insan olahraga setempat pun dipastikan kandas.
Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, mengungkapkan bahwa pencadangan anggaran serta kalkulasi awal sebenarnya telah disusun sejak 2025. Namun, asumsi penerimaan daerah mengalami fluktuasi tajam akibat tidak terwujudnya suntikan dana dari pemerintah pusat tersebut.
“Itu kan sudah dicadangkan sejak tahun 2025, tadinya ada harapan kita mendapatkan tambahan TKD, ternyata tidak,” kata Abdusy Syakur Amin, Senin 31 Agustus 2026.
Tanpa adanya tambahan sumber pendanaan dari eksternal, Pemkab Garut tidak memiliki pilihan selain mengembalikan struktur pembiayaan KONI ke batas minimal skema semula. Kebijakan ini merupakan bagian integral dari langkah efisiensi anggaran menyeluruh yang tengah diterapkan di lingkup pemerintah kabupaten.
Imbas Efisiensi dan Skala Prioritas
Syakur tak menampik bahwa pengetatan ini berdampak langsung pada sektor keolahragaan daerah. Pemerintah daerah kini terdesak untuk memilah dan menentukan skala prioritas pengeluaran demi menjaga stabilitas belanja daerah.
”Berarti kan tidak ada sumber yang bisa menjadi tambahan buat KONI. Kita kembali lagi ke skema awal. Dan itu bukannya semua pun kita juga ada efisiensi,” ujar Syakur menegaskan.
Meski pemangkasan tak terelakkan, Syakur mengklaim pemerintah daerah tidak lantas melupakan kebutuhan para atlet dan pembinaan olahraga. Hanya saja, realitas tekanan fiskal memaksa ekspektasi publik dan para pelaku olahraga untuk disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah.
“Ini mohon dipahami kepada teman-teman di atlet bahwa bukan kita tidak memperhatikan, tapi kondisinya memang seperti ini,” ucapnya.
Mendorong Terobosan dan Partisipasi Swasta
Guna menutupi celah defisit pendanaan olahraga tersebut, Pemkab Garut kini mendorong KONI dan jajaran pengurus cabang olahraga untuk melahirkan gagasan kreatif. Keterlibatan sektor swasta kembali dilirik sebagai tumpuan utama pembinaan atlet agar tidak sepenuhnya menggantungkan nasib pada APBD.
Syakur mengingatkan bahwa pendekatan kolaboratif dengan dunia usaha pernah diupayakan sebelumnya. Dalam kondisi darurat anggaran seperti saat ini, mekanisme sponsor dan partisipasi pihak swasta dinilai menjadi satu-satunya jalan keluar yang rasional.
”Untuk mengatasi kekurangannya, nanti barangkali punya ide kreatif. Dulu pernah ada upaya kita untuk meminta partisipasi dari teman-teman swasta,” tutur Syakur.
Pemkab Garut berharap kepastian keterbatasan anggaran ini tidak mengendurkan gairah pembinaan atlet di lapangan. Sinergi empat pilar—pemerintah daerah, KONI, dunia usaha, dan masyarakat—diharapkan sanggup menjaga rantai prestasi olahraga Kabupaten Garut tetap bersaing di tingkat regional maupun nasional. (Yuyus)



.png)
















