GOSIPGARUT.ID — Laga penentuan Piala Soeratin U-15 2026 Zona Priangan Timur antara Tasik Raya dan Banjar Patroman FA di Stadion Jayaraga, Garut, Sabtu, 22 Agustus 2026, berakhir ricuh. Keributan terjadi setelah Banjar Patroman FA menyamakan kedudukan melalui penalti pada penghujung pertandingan.
Insiden itu tidak hanya menyoroti keamanan pertandingan. Aktivitas peliputan juga terdampak. Pada laga berikutnya di hari yang sama, sejumlah wartawan diminta meninggalkan area lapangan dan melakukan peliputan dari tribun penonton.
Kebijakan tersebut memicu perdebatan antara pengawas pertandingan dan sejumlah awak media. Wartawan mempertanyakan alasan pembatasan karena pada pertandingan sebelumnya mereka masih diperbolehkan berada di area yang biasa digunakan untuk peliputan.
Salah seorang wartawan, Herdiana, mengatakan keberatan dengan kebijakan tersebut. Menurut dia, aturan mengenai posisi awak media seharusnya diberlakukan secara konsisten sejak awal turnamen.
Sorotan lain datang dari official tim dan penonton. Mereka menilai penyelenggaraan pertandingan masih menyisakan sejumlah persoalan, terutama fasilitas dan pengamanan. Keberadaan papan skor serta pengamanan di sekitar lapangan menjadi perhatian.
Minimnya pengamanan terlihat ketika sejumlah penonton dapat masuk ke dalam lapangan saat situasi pertandingan memanas. Kondisi itu membuat kericuhan berpotensi meluas dari area permainan.
Ketua Panitia Pelaksana Piala Soeratin U-13 dan U-15 Zona Priangan Timur, Firman Fauzi Samsudin, membantah panitia tidak melakukan persiapan. Ia mengatakan seluruh unsur pertandingan telah disiapkan, mulai dari delegasi Asprov, match commissioner, administrasi hingga keamanan.
Menurut Firman, kericuhan bermula setelah wasit memberikan penalti kepada Banjar Patroman FA pada penghujung pertandingan. Keputusan itu menjadi titik balik laga yang sangat menentukan karena kedua tim memperebutkan tiket ke babak delapan besar.
Banjar Patroman FA kemudian mencetak gol dari titik penalti dan mengubah skor menjadi 1-1. Ketegangan meningkat setelah gol tersebut. Situasi berlanjut hingga wasit meniup peluit panjang.
Firman mengatakan sejumlah pemain Tasik Raya kemudian mendatangi perangkat pertandingan. Ia mengaku melihat adanya tindakan kekerasan terhadap wasit.
“Setelah peluit akhir, seluruh pemain menyerang perangkat pertandingan. Bahkan saya melihat sendiri ada yang menyundul wasit dengan kepala dan ada videonya,” ujar Firman.
Kericuhan kemudian meluas ke sekitar podium panitia. Sejumlah penonton masuk ke lapangan dengan memanjat pagar. Panitia berupaya memisahkan pihak-pihak yang terlibat dan mengendalikan keadaan.
Firman menegaskan keputusan wasit seharusnya dipersoalkan melalui mekanisme resmi kompetisi. Kekerasan, kata dia, tidak dapat dibenarkan dalam pertandingan sepak bola, apalagi kompetisi yang melibatkan pemain usia muda.
Insiden tersebut memperlihatkan bahwa persoalan penyelenggaraan tidak berhenti pada hasil pertandingan. Pengamanan lapangan, akses penonton, perlindungan perangkat pertandingan dan ruang kerja wartawan ikut menjadi bagian penting dalam evaluasi.
Panitia berharap kejadian itu menjadi pelajaran bagi seluruh pihak. Penyelenggara, perangkat pertandingan, tim, pemain dan suporter dinilai perlu memperbaiki koordinasi agar pertandingan berikutnya berlangsung lebih tertib.
Piala Soeratin merupakan kompetisi pembinaan pemain muda. Karena itu, sportivitas dan keamanan semestinya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pertandingan. Perselisihan atas keputusan wasit pun seharusnya diselesaikan melalui jalur yang telah ditetapkan, bukan dengan kekerasan. (Yuyus)



.png)














