GOSIPGARUT.ID — Harga jengkol di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Garut sempat melonjak hingga Rp80.000 per kilogram selama musim kemarau. Kenaikan yang jauh di atas harga normal itu membuat komoditas bercita rasa khas tersebut sulit dijangkau konsumen dan berdampak pada menurunnya penjualan pedagang.
Pantauan di sejumlah pasar tradisional menunjukkan lonjakan harga tidak hanya terjadi pada jengkol, tetapi juga beberapa komoditas hortikultura seperti tomat serta cabai merah dan cabai rawit. Pedagang menyebut terbatasnya pasokan akibat musim kemarau menjadi penyebab utama kenaikan harga.
Siti (55), pedagang sayuran di Pasar Ciparay, Kecamatan Karangpawitan, mengatakan jengkol bahkan sempat menghilang dari lapak pedagang selama beberapa pekan karena pasokan sangat terbatas. Kalaupun tersedia, harganya melonjak hingga Rp80.000 per kilogram.
“Jika pun ada barangnya harganya cukup tinggi sampai menembus Rp80.000 per kilogram, sementara yang beli juga tidak ada,” kata Siti, Kamis (16/7/2026).
Menurut Siti, kondisi pasokan kini mulai membaik sehingga harga jengkol berangsur turun menjadi sekitar Rp60.000 per kilogram. Namun, harga tersebut masih jauh lebih tinggi dibandingkan harga normal sehingga pembeli belum kembali ramai.
“Untuk seperlima kilogram dijual Rp15.000. Peminatnya masih jarang karena biasanya harga jengkol tidak semahal sekarang,” ujarnya.
Selain jengkol, harga tomat juga mengalami kenaikan hingga mencapai Rp16.000 per kilogram. Sebelumnya, komoditas tersebut umumnya dijual pada kisaran Rp6.000 hingga Rp10.000 per kilogram.
“Selain jengkol, tomat juga naik menjadi Rp16.000 per kilogram. Biasanya hanya sekitar Rp8.000 per kilogram,” katanya.
Sementara itu, harga cabai merah dan cabai rawit masih bertahan di atas Rp40.000 per kilogram. Menurut Siti, pasokan yang terbatas di tengah permintaan yang tetap tinggi membuat harga belum juga turun.
“Kenaikan dipicu karena barangnya sedikit sementara permintaan cukup tinggi,” ucapnya.
Pedagang lainnya, Dede, menilai musim kemarau yang telah berlangsung hampir tiga pekan meningkatkan risiko gagal panen karena lahan pertanian mulai kekurangan air. Kondisi tersebut berdampak pada berkurangnya pasokan sayuran ke pasar.
Selain faktor cuaca, Dede berpendapat meningkatnya kebutuhan bahan pangan untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga ikut memengaruhi harga sejumlah komoditas.
“Sejak ada MBG semua kebutuhan pokok masyarakat terus mengalami kenaikan, dan susah turun harganya,” katanya.
Meski harga jual komoditas meningkat, Dede mengaku pedagang tidak serta-merta memperoleh keuntungan lebih besar. Menurutnya, tingginya harga justru membuat masyarakat mengurangi pembelian sehingga omzet penjualan ikut menurun.
“Ya jelas saja dengan menurunnya daya beli masyarakat akibat harga kebutuhan pokok serba naik sangat berpengaruh terhadap pendapatan atau omzet kami,” tuturnya.
Para pedagang berharap pasokan hasil pertanian kembali normal seiring membaiknya distribusi dan kondisi cuaca. Dengan demikian, harga jengkol yang sempat menyentuh Rp80.000 per kilogram serta komoditas lainnya dapat kembali stabil sehingga daya beli masyarakat pulih. ***



.png)











