GOSIPGARUT.ID — Musim kemarau mulai menunjukkan dampaknya terhadap sektor pertanian di Kabupaten Garut. Dinas Pertanian Kabupaten Garut mencatat sekitar 90 hektare lahan sawah yang tersebar di 11 kecamatan mulai mengalami kekeringan. Meski demikian, kondisi tersebut masih tergolong ringan dan belum mengancam produksi padi secara signifikan.
Untuk mencegah dampak yang lebih luas, Dinas Pertanian mengintensifkan berbagai langkah antisipasi, mulai dari memetakan wilayah rawan kekeringan, mengidentifikasi sumber air yang masih tersedia, hingga mengawal pelaksanaan program penanggulangan di lapangan.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Ardhy Firdian, mengatakan pemetaan menjadi langkah awal agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat sasaran. Selain itu, pihaknya memastikan pembangunan sarana irigasi serta berbagai upaya penanggulangan kekeringan berjalan optimal.
“Yang pertama tentu melakukan identifikasi terhadap titik-titik lokasi kekeringan, kemudian mengidentifikasi sumber-sumber air, dan melakukan pengawalan terhadap kegiatan di lapangan, terutama yang berkaitan dengan penanggulangan kekeringan, seperti pembangunan irigasi,” ujar Ardhy, Senin (6/7/2026).
Menurut dia, kondisi tanaman padi yang terdampak saat ini masih relatif aman. Sebagian besar tanaman masih berwarna hijau dan terus tumbuh, meski mulai mengalami penurunan pasokan air. Karena itu, penanganan sejak dini dinilai penting agar tanaman tidak mengalami kerusakan hingga berujung puso atau gagal panen.
“Sementara ini kondisinya masih ringan. Tanaman masih hijau, masih tumbuh, belum sampai menguning. Justru sekarang saatnya dilakukan penanganan agar tidak semakin parah,” kata Ardhy.
Berdasarkan pendataan sementara, luas lahan yang terdampak mencapai sekitar 90 hektare. Jika dibandingkan dengan total luas areal tanam padi di Kabupaten Garut, angka tersebut masih relatif kecil sehingga belum memengaruhi produksi pangan secara keseluruhan.
“Kalau dibandingkan dengan total luas tanam, dampaknya masih kecil, sekitar 90 hektare. Mudah-mudahan bisa terus ditekan,” ungkap Ardhy.
Seiring meningkatnya intensitas musim kemarau, Dinas Pertanian terus mengoptimalkan distribusi air ke lahan pertanian yang membutuhkan serta mempercepat pembangunan infrastruktur irigasi di sejumlah wilayah. Langkah ini diharapkan mampu menjaga produktivitas tanaman padi sekaligus meminimalkan kerugian petani.
Meski dampaknya saat ini belum signifikan, Ardhy menegaskan pihaknya tidak ingin lengah. Menurut dia, musim kemarau yang berlangsung lebih panjang berpotensi mengganggu musim tanam berikutnya apabila tidak diantisipasi sejak sekarang.
“Secara matematis dampaknya memang masih kecil, tetapi kita tetap harus mengantisipasi kondisi iklim. Jangan sampai kekeringan ini berkepanjangan dan akhirnya berdampak pada produksi pangan kita ke depan. Saat ini fokus utama masih pada tanaman padi,” pungkasnya. (Yuyus)



.png)














