GOSIPGARUT.ID — Bupati Garut Abdusy Syakur Amin menegaskan bahwa seorang pemimpin tidak lahir secara instan. Kepemimpinan, menurutnya, dibentuk melalui proses panjang, kebiasaan baik, serta rekam jejak yang konsisten sejak usia muda.
Pesan tersebut menjadi sorotan utama saat Syakur menghadiri Musyawarah Daerah (Musda) XIII Pimpinan Daerah Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (Hima Persis) Kabupaten Garut di Ballroom Fave Hotel, Jalan Cimanuk, Kecamatan Tarogong Kidul, Sabtu (30/5/2026).
Di hadapan ratusan kader Hima Persis, Syakur mengapresiasi konsep Musda yang dikemas melalui grand launching. Menurutnya, pendekatan tersebut menunjukkan keseriusan organisasi dalam membangun tradisi musyawarah sekaligus menyiapkan generasi pemimpin masa depan yang memiliki kualitas intelektual dan karakter kuat.
Namun, perhatian Syakur tertuju pada satu hal yang dinilainya sangat penting, yakni keberanian organisasi untuk mulai menanamkan kesiapan kepemimpinan sejak dini melalui berbagai materi pengembangan diri, termasuk pengenalan table manner.
Baginya, pembelajaran etika dalam forum formal bukan sekadar soal tata cara makan, melainkan latihan membangun sikap, kepercayaan diri, dan kesiapan menghadapi tanggung jawab yang lebih besar di masa depan.
“Di benak saya adalah, bahwa anda ini sudah yakin suatu waktu nanti akan jadi orang-orang yang memerlukan table manner. Tapi intinya apa, kita yakin suatu saat bapak ibu adek-adek semua yakinlah bahwa anda akan menjadi pemimpin,” ujar Syakur.
Pernyataan tersebut disambut antusias peserta Musda. Syakur menilai, keyakinan untuk menjadi pemimpin merupakan modal awal yang harus dimiliki generasi muda. Namun, keyakinan itu harus dibarengi dengan proses pembelajaran dan pembentukan karakter yang berkelanjutan.
Menurut dia, kepemimpinan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan berbicara atau kecerdasan akademik. Lebih dari itu, masyarakat akan melihat bagaimana seseorang bersikap dan berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari.
“Sikap kita, cara kita makan, cara kita menyapa orang, sehingga menurut saya ini suatu ide yang sangat brilian. Bagaimana kita mengajak anak-anak kita untuk mulai menyiapkan diri menjadi pemimpin, karena pemimpin itu ada yang disiapkan. Karena jarang-jarang tiba-tiba jadi ketua, enggak ada,” katanya.
Syakur menekankan, banyak orang bercita-cita menjadi pemimpin, tetapi tidak semua mempersiapkan diri dengan baik. Padahal, dalam praktiknya, masyarakat akan menilai seseorang berdasarkan rekam jejak yang dibangun dalam waktu yang panjang.
Karena itu, ia mengingatkan para mahasiswa agar menjaga integritas, etika, dan profesionalisme sejak sekarang. Hal-hal yang tampak sederhana, seperti cara menghormati orang lain, menjaga komitmen, hingga bertanggung jawab terhadap tugas, menurutnya akan menjadi catatan penting yang menentukan kualitas kepemimpinan seseorang di masa depan.
“Orang akan melihat dari track record selama ini, apa yang dilakukan selama ini, apa yang dipikirkan selama ini. Apa yang dibicarakan selama ini akan menjadi penilaian orang. Oh dia pantas jadi seorang pemimpin, kenapa? Perilaku dia pantas menjadi seorang pemimpin,” ungkap Syakur.
Musda XIII Hima Persis Kabupaten Garut sendiri menjadi momentum strategis bagi organisasi untuk melakukan evaluasi program kerja, merumuskan arah gerakan organisasi, sekaligus memilih kepengurusan baru. Forum tersebut juga menjadi ruang konsolidasi kader dalam menjawab berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini.
Di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat, pesan yang disampaikan Bupati Garut terasa relevan. Bahwa kepemimpinan bukanlah soal jabatan yang diraih dalam semalam, melainkan hasil dari proses panjang yang dibangun melalui disiplin, integritas, dan kebiasaan-kebiasaan baik yang dilakukan setiap hari. ***



.png)















