Kuliner

Bolu Sampeu Garut, Inovasi Santri Ponpes Al Yumna untuk Kemandirian dan Kesejahteraan Pesantren

×

Bolu Sampeu Garut, Inovasi Santri Ponpes Al Yumna untuk Kemandirian dan Kesejahteraan Pesantren

Sebarkan artikel ini
Kehadiran Bolu Sampeu Garut (BSG) turut mendapat perhatian dari anggota DPRD Kabupaten Garut Fraksi PKS, Muhammad Nur Jamaludin. Ia mengapresiasi kreativitas para santri di Pondok Pesantren Al Yumna dalam mengembangkan produk olahan pangan lokal yang dinilai memiliki potensi ekonomi.

GOSIPGARUT.ID — Kreativitas santri di Pondok Pesantren Al Yumna melahirkan sebuah produk kuliner berbahan dasar singkong yang kini mulai dikenal masyarakat, yakni Bolu Sampeu Garut (BSG). Produk tersebut tidak hanya menjadi inovasi olahan pangan lokal, tetapi juga diharapkan mampu menopang operasional pondok pesantren sekaligus meningkatkan kesejahteraan santri dan para guru.

BSG lahir dari upaya pesantren memanfaatkan hasil pertanian yang selama ini dikelola secara mandiri. Di lingkungan pesantren yang berada di Leuweunggaha, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut itu, para santri tidak hanya dibekali pendidikan tahfidz Al Quran dan ilmu agama Islam, tetapi juga diajarkan keterampilan bertani dan berwirausaha.

Pimpinan Pondok Pesantren Al Yumna, Iip Abdul Malik, mengatakan bahwa pendidikan kewirausahaan sengaja diperkenalkan agar para santri memiliki bekal hidup ketika kembali ke masyarakat.

Baca Juga:   Turnamen Bola Voli Ngabuburit Cup Tahun 2024 Resmi Ditutup, Ini Daftar Pemenangnya

“Selain belajar tahfidz dan ilmu agama, santri juga diajarkan berkebun serta berwirausaha. Tujuannya agar lulusan pondok memiliki kemampuan mandiri dan bisa menciptakan peluang usaha,” ujar Iip, beberapa hari lalu.

Menurut dia, mayoritas santri di Ponpes Al Yumna merupakan yatim piatu dan berasal dari keluarga dhuafa. Karena itu, pengelolaan pesantren kerap menghadapi tantangan, terutama dalam memenuhi kebutuhan operasional dan honor para guru honorer.

Meski demikian, kata dia, keterbatasan tersebut tidak menyurutkan semangat pengurus pesantren untuk terus menjalankan pendidikan dan kegiatan sosial.

“Berbagai cara kami lakukan untuk membantu biaya operasional pondok, di antaranya bertani durian, pepaya, pisang, hingga singkong. Hasil panen dijual untuk menutupi kebutuhan pondok,” katanya.

Dari hasil pertanian itulah kemudian muncul gagasan mengolah singkong menjadi produk kuliner bernilai tambah melalui Bolu Sampeu Garut. Singkong dipilih karena menjadi salah satu komoditas pertanian yang melimpah di Kabupaten Garut dan telah lama dikenal masyarakat sebagai bahan pangan alternatif.

Baca Juga:   Di Garut Akan Digelar Operasi Pemeriksaan Pajak Kendaraan, yang Belum Bayar Siap-siap...!

Iip berharap BSG dapat menjadi identitas kuliner baru dari Kecamatan Banyuresmi. Ia mencontohkan Kecamatan Lewo yang telah dikenal dengan produk Endog Lewo.

“Kalau daerah Lewo punya Endog Lewo, mudah-mudahan Banyuresmi juga punya ciri khas melalui Bolu Sampeu Garut ini,” ucapnya.

Kehadiran BSG turut mendapat perhatian dari anggota DPRD Kabupaten Garut Fraksi PKS, Muhammad Nur Jamaludin. Ia mengapresiasi kreativitas para santri dalam mengembangkan produk olahan pangan lokal yang dinilai memiliki potensi ekonomi.

“Alhamdulillah, Bolu Sampeu Garut mendapatkan dukungan dan apresiasi agar produk santri ini bisa maju dan berkembang menjadi salah satu usaha untuk meningkatkan kesejahteraan santri dan para guru,” kata Iip menirukan dukungan yang disampaikan Muhammad Nur Jamaludin.

Baca Juga:   SDN 1 Samarang Garut Tolak Penerbit Erlangga Jualan Buku ke Siswa

Saat ini, proses produksi BSG dikelola para santri kelas X dan XI. Selain belajar membuat produk, para santri juga terlibat dalam pemasaran dengan rutin mengikuti bazar dan berbagai kegiatan masyarakat.

Bagi para santri, kegiatan tersebut bukan sekadar praktik usaha, melainkan bagian dari proses belajar tentang kerja keras, tanggung jawab, dan pentingnya kemandirian ekonomi.

Pihak pesantren pun optimistis usaha tersebut dapat berkembang lebih luas seiring meningkatnya kualitas produk dan pelayanan kepada konsumen.

“Kami terus berusaha meningkatkan kualitas dan pelayanan. Insya Allah, dengan kerja keras dan dukungan masyarakat, usaha kuliner ini bisa terus berkembang,” pungkas Iip. (Ai Karnengsih)

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *