GOSIPGARUT.ID — Kunjungan lapangan Anggota DPRD Kabupaten Garut Komisi IV, Yudha Puja Turnawan, ke Kampung Cihanja, Desa Lingkung Pasir, Kecamatan Cibiuk, Selasa (28/4/2026), mengungkap realitas yang kerap tersembunyi di balik data bantuan sosial: masih adanya warga lanjut usia (lansia) dalam kondisi memprihatinkan yang belum sepenuhnya tersentuh bantuan pemerintah.
Didampingi perwakilan Dinas Sosial Kabupaten Garut, aparat kecamatan, pemerintah desa, dan pendamping sosial, Yudha menyusuri permukiman warga untuk melihat langsung kondisi para lansia. Dalam kegiatan tersebut, bantuan berupa paket sembako, santunan uang tunai, hingga kursi roda disalurkan kepada warga yang membutuhkan.
Salah satu potret yang mencuat adalah kondisi Isoh, seorang lansia yang sudah lima tahun tidak dapat berjalan. Selama itu pula, aktivitas hariannya sangat terbatas karena tidak memiliki alat bantu mobilitas. Melalui kunjungan tersebut, Isoh akhirnya menerima bantuan kursi roda.
“Alhamdulillah, ini berawal dari usulan pemerintah desa. Hari ini bisa direalisasikan oleh Dinas Sosial,” ujar Yudha.
Namun, di balik bantuan yang disalurkan, ditemukan pula persoalan lain yang tak kalah penting, yakni adanya warga yang belum tersentuh bantuan sosial meski berada dalam kondisi rentan. Salah satunya adalah Engkos, lansia penyintas stroke yang belum pernah menerima bantuan.
Temuan ini, menurut Yudha, menjadi catatan penting terkait akurasi data penerima bantuan sosial. Ia menilai, masih ada celah dalam pendataan yang menyebabkan sebagian warga luput dari intervensi pemerintah.
“Fakta di lapangan menunjukkan masih ada warga yang seharusnya mendapat bantuan, tetapi belum terdata atau belum tersentuh program,” katanya.
Yudha menegaskan, langkah blusukan ini bukan sekadar penyaluran bantuan, tetapi juga bagian dari upaya memastikan kebijakan sosial benar-benar tepat sasaran. Ia menyebut, kegiatan tersebut sejalan dengan implementasi Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 11 Tahun 2023 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial.
Menurut Yudha, pendekatan jemput bola dengan turun langsung ke lapangan menjadi cara efektif untuk menemukan persoalan riil yang tidak selalu terlihat dalam laporan administratif.
Ia pun mendorong Pemerintah Kabupaten Garut untuk memperkuat sinergi antara pemerintah desa, dinas terkait, dan para pemangku kepentingan lainnya, terutama dalam hal pemutakhiran data dan optimalisasi pendanaan.
“Yang paling penting, jangan sampai ada warga yang membutuhkan tetapi terlewat. Kita harus pastikan seluruh kelompok rentan benar-benar terlayani,” ujarnya.
Kunjungan tersebut menjadi pengingat bahwa di balik angka dan kategori bantuan sosial, masih ada cerita-cerita warga yang membutuhkan perhatian lebih—dan menunggu hadirnya negara secara nyata di tengah kehidupan mereka. ***



.png)

















