Berita

Warga Cibalong Garut Waswas Wacana Alih Komoditas PTPN, Minta Dialog Demi Cegah Konflik

×

Warga Cibalong Garut Waswas Wacana Alih Komoditas PTPN, Minta Dialog Demi Cegah Konflik

Sebarkan artikel ini
Papan pengumuman rencana pelaksanaan program peralihan komoditas karet ke kelapa di wilayah perkebunan PTPN 1 Regional 2 yang meliputi perkebunan Miramareu di kawasan Desa Najaten serta Bunisari Lendra di kawasan Cilalay, Desa Cigaronggong, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut.

GOSIPGARUT.ID — Wacana program peralihan komoditas karet ke kelapa di wilayah perkebunan PTPN 1 Regional 2 memicu keresahan di kalangan petani penggarap di Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut. Minimnya informasi dan ruang dialog membuat masyarakat khawatir potensi konflik sosial tak terhindarkan.

Lokasi yang terdampak meliputi perkebunan Miramareu di kawasan Desa Najaten serta Bunisari Lendra di kawasan Cilalay, Desa Cigaronggong. Kedua area tersebut selama ini telah digarap masyarakat dengan berbagai jenis tanaman, mulai dari kayu, buah-buahan, palawija, hingga komoditas pertanian lainnya.

Salah seorang warga Cibalong, Andri Suseno, menyebutkan bahwa rencana tersebut mau tak mau mengusik rasa aman petani yang menggantungkan hidupnya dari lahan garapan tersebut.

Baca Juga:   Korsleting Listrik Diduga Picu Kebakaran Rumah Panggung di Garut, Lansia 85 Tahun Tewas Terjebak Api

“Minimnya ruang informasi, komunikasi, dan dialog membuat masyarakat petani merasa was-was. Apalagi menurut keterangan dari pihak PTPN sendiri, program ini akan direalisasikan pada pertengahan tahun ini,” ujar Andri, Rabu (28/1/2026).

Ia menilai, jika program tersebut tetap dipaksakan tanpa melibatkan masyarakat terdampak, potensi konflik sosial akan sulit dihindari. Oleh karena itu, warga mendorong seluruh pihak terkait untuk menempuh jalur musyawarah.

“Kami menganjurkan kepada pemerintah desa, kecamatan, aparat penegak hukum, serta pihak perkebunan agar melakukan evaluasi dan membawa perencanaan program ini ke ruang dialog khusus bersama masyarakat petani penggarap,” kata Andri.

Baca Juga:   Pembangunan Rumah Susun ASN di IKN Garapan PTPP mendapat Apresiasi Menteri PKP, Raih Rekor MURI dan Standar Green Building

Ia juga menyinggung peristiwa saat tim pelaksana ground checking dari pihak PTPN yang rencananya turun ke lapangan pada Senin (26/1/2026). Menurutnya, situasi saat itu berpotensi memanas karena penolakan dari masyarakat.

“Jika saat itu pihak PTPN, khususnya Bule atau Nagara, tetap memaksakan tim turun ke lapangan tanpa menerima masukan, kami menilai bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Syukurnya, pihak PTPN mendengar masukan dan tim berbalik arah sebelum turun ke lokasi,” ujar Andri.

Baca Juga:   Tani Merdeka Jabar Siapkan Somasi untuk Kadistan Indramayu, Dipicu Dugaan Ucapan di Forum Zoom Resmi

Ia menegaskan, masyarakat pada prinsipnya tidak menolak pembangunan, namun mengutamakan kondusivitas dan keselamatan bersama.

“Yang kami utamakan adalah menghindari hal-hal yang tidak diharapkan. Langkah paling tepat adalah perencanaan program dilakukan melalui musyawarah dan dialog dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, terutama masyarakat petani yang akan terdampak langsung,” kata Andri.

Hingga berita ini diturunkan, pihak PTPN 1 Regional 2 belum memberikan keterangan resmi terkait mekanisme pelaksanaan program peralihan komoditas tersebut maupun rencana dialog dengan masyarakat. ***

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *