GOSIPGARUT.ID — Empat hari menjelang perayaan HUT ke-80 Republik Indonesia, wajah-wajah Hansip atau Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas) di Kabupaten Garut kerap terlihat di setiap sudut desa. Mereka menjadi pengatur lalu lintas dadakan saat karnaval, penjaga ketertiban malam, hingga pelindung acara kampung.
Di mata sebagian orang, kehadiran mereka kadang memantik senyum—bahkan tawa—karena atributnya yang sederhana atau gaya berjaganya yang apa adanya.
Namun di balik itu, ada fakta yang jauh dari lucu. Data Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) 2025 di salah satu desa mencatat, insentif tahunan untuk Hansip hanya Rp 1.260.000, dibagi untuk beberapa petugas dalam satu wilayah rukun warga (RW). Artinya, jika satu desa memiliki 16 anggota Satlinmas, tiap orang hanya menerima Rp 78.850 setahun.
“Bayangkan saja, Rp 78 ribu setahun, tidak cukup bahkan untuk membeli dua karung beras,” ujar seorang tokoh masyarakat di Kecamatan Cibalong yang enggan disebut namanya, Rabu (13/8/2025). Padahal, tuntutan tugas mereka tidak ringan: selalu siaga di garda terdepan menjaga keamanan lingkungan.
Ironisnya, di tengah minimnya penghargaan finansial, para Hansip ini tetap bertahan. Mereka hadir tanpa banyak keluh, mengawal acara 17-an, ronda malam, hingga kegiatan darurat. “Kalau soal pengabdian, mereka tak kalah dari aparat manapun. Hanya kesejahteraan mereka yang kalah jauh,” tambahnya.
Masyarakat berharap pemerintah benar-benar memperhatikan hak dan kesejahteraan Hansip, bukan sekadar menepuk bahu saat upacara. Karena keamanan di tingkat desa seringkali dimulai dari mereka—penjaga yang tak pernah masuk sorotan berita besar, tapi selalu berdiri di garis depan. ***



.png)





