GOSIPGARUT.ID — Puluhan warga Desa Sukahurip, Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut, dilaporkan terserang penyakit difteri. Wakil Bupati Helmi Budiman menyebut ada enam orang yang meninggal dunia diduga akibat difteri. Keenam orang itu belum sempat diperiksa secara laboratorium. Namun, berdasarkan laporan, mereka mengalami gejala seperti terserang penyakit tersebut.
Wabup Helmi Budiman menjelaskan, petugas sudah terjun ke lapangan ketika ada beberapa warga di Desa Sukahurip diduga terserang difteri. Sampel pasien lantas diperiksa untuk memastikannya. Hasilnya, ada yang positif difteri, ada juga warga desa yang meninggal diduga akibat difteri.
Ia juga menjelaskan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut, menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) kasus difteri di Desa Sukahurip. Warga desa yang mengalami gejala seperti difteri diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
“Karena ada yang meninggal diduga difteri, ada yang positif, kami memutuskan per hari ini KLB yang disebabkan oleh difteri. Jadi, untuk satu desa, kami menyatakan KLB untuk Desa Sukahurip, Kecamatan Pangatikan,” kata Helmi, Senin (20/2/2023).
Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Garut, hingga Minggu (19/2/2023), terdata 72 kasus di Desa Sukahurip. Dari total kasus itu, empat orang disebut masuk kategori observasi difteri, empat suspek difteri, dua kasus konfirmasi positif difteri, 55 kontak erat, dan tujuh orang meninggal dunia tanpa ada catatan medis yang lengkap.
Dilaporkan sebanyak tiga orang sedang menjalani perawatan di RSUD dr Slamet Kabupaten Garut dan delapan orang lainnya menjalani isolasi mandiri.
Sekretaris Dinkes Kabupaten Garut Leli Yuliani mengatakan, kasus diduga difteri baru muncul sekitar empat pekan lalu. Menurut dia, dilaporkan ada tujuh warga yang meninggal dunia, yaitu enam orang berusia anak dan satu orang dewasa.
Namun, Dinkes belum bisa memastikan penyebab warga tersebut meninggal dunia memang akibat difteri. Meskipun berdasarkan laporan keluarga ada gejala mirip difteri, kata Leli, belum sempat diperiksa di laboratorium. “Kami belum sempat ambil sampelnya. Jadi, tidak diketahui meninggal karena difteri atau penyakit lainnya,” kata dia.
Menurut Leli, gejala umum kasus difteri ini berupa demam, susah menelan, pseudomembran, atau bagian leher seperti bengkak. Gejalanya disebut ada yang ringan, sedang, hingga berat.
Dengan penetapan status KLB, Helmi mengimbau warga di Desa Sukahurip segera melapor kepada petugas apabila merasakan gejala seperti terserang difteri. Puskesmas di wilayah itu disebut telah membuka posko pelayanan khusus difteri. “Petugas akan rutin melakukan pemeriksaan swab kepada masyarakat di Desa Sukahurip yang ada gejala,” kata dia.
Helmi mengatakan, pasien yang sudah didiagnosis akan diisolasi di rumah sakit. Sementara kontak erat akan diberikan pengobatan profilaksis agar tidak terkena difteri. “Saya juga anjurkan minimalisasi mobilitas. Lalu di desa itu kami anjurkan untuk pakai masker,” ujar dia.
Selain itu, Helmi mengatakan, Dinas Kesehatan Kabupaten Garut akan melakukan imunisasi massal di Desa Sukahurip. Upaya itu sebagai upaya pencegahan potensi penyebaran difteri. (ROL)



.png)





















