Berita

Puluhan Anak Korban Pembaiatan NII di Garut Kembali Berikrar Setia ke NKRI

×

Puluhan Anak Korban Pembaiatan NII di Garut Kembali Berikrar Setia ke NKRI

Sebarkan artikel ini
Anak korban pembaiatan NII di Garut. (Foto: Istimewa)

GOSIPGARUT.ID — Puluhan anak korban pembaiatan Negara Islam Indonesia (NII) di Kelurahan Sukamentri, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, kembali berikrar setia ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebelumnya, anak tersebut diketahui menyebut pemerintah Indonesia ‘thogut’ hasil dari cuci otak pelaku pembaitan NII.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Garut, Wahyudijaya mengatakan bahwa puluhan anak yang ikrar setia kembali ke NKRI adalah 90 persen dari total anak yang dicuci otaknya. Para anak itu, sebelumnya diketahui mendapatkan pendampingan dan terapi dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

“Ikrar setia dilakukan Jumat (29/10/2021) kemarin di Gedung Islamic Center, Kecamatan Garut Kota. Dalam kegiatan itu juga hadir BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) juga KPAI,” kata dia, Sabtu (30/10/2021).

Baca Juga:   Tak Terisolasi Lagi, Korban Banjir Bandang Sukaresmi Sudah Kembali Beraktivitas

Wahyudijaya mengungkapkan bahwa setelah terungkapnya puluhan anak yang masuk NII, Pemerintah Kabupaten Garut, BNPT, dan KPAI terlibat aktif melakukan penanganan. Untuk BNPT, bahkan secara khusus terjun ke lapangan untuk mencegah paham radikal di masyarakat.

Sementara itu, Direktur Pencegahan Terorisme BNPT, Brigjen Pol Akhmad Nurwahid kepada wartawan menyebut bahwa kaum radikal kanan di masyarakat memang kerap berteriak paling benar dibanding yang lainnya. Kelompok mereka pun kemudian tidak jarang menjadi bibit radikalisme.

Menyikapi persoalan tersebut, menurutnya diperlukan regulasi yang fundamental karena mengingat saat ini baru ada undang-undang nomor 27 tahun 1999 yang merupakan Tap MPRS tahun 1966 tentang larangan terhadap ideologi komunisme.

Baca Juga:   Jalur Banjarwangi–Singajaya Tertutup Longsor di Empat Titik, Satu Warga Luka Ringan

“Makanya kalau ada yang teriak-teriak khilafah terus teriak-teriak ganti sistem, kita belum bisa berbuat apa-apa (karena) baru ada regulasi bagi yang kaum ekstrimis kiri. Untuk yang ekstrimis kanan belum ada, biasanya mengatasnamakan agama,” sebut Akmad.

Terkait kegiatan NII di Sukamentri, BNPT menilai bahwa apa yang dilakukan kelompok tersebut adalah virus yang masuk indeks potensi radikalisme di Indonesia. Hasil survey menunjukan bahwa ada sekitar 12,2 persen warga yang terpapar virus tersebut.

“Indikatornya sudah anti pancasila dan pro khilafah itu satu. Kemudian ia juga intoleran dan eklusif. Nah yang ketiga ia juga anti budaya dan anti kearifan lokal, membenci memvonis kafir, bidah, dan lainnya,” ungkapnya.

Baca Juga:   Sukseskan MTQ, Warga Talegong Berswadaya Bangun Jalur Air ke Pemondokan Kafilah

Ketua KPAID Tasikmalaya, Ato Rinanto menyebut bahwa puluhan anak yang terpapar NII 90 persen pulih sehingga mereka mau mengucap setia NKRI. Tidak hanya itu saja, menurutnya juga mereka sudah kembali seperti anak seusianya.

“Terapi sudah beberapa kali dilakukan. Yang terpapar sudah terus inten diterapi di rumah aman, tinggal tahapan akhir terapi agar mereka benar-benar seperti anak seusianya,” singkatnya. (Mrdk)

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *